NAMA PENDEKATAN
Nama pendekatan
konseling yang dibahas dalam makalah ini adalah Solution Focus
Brief Counseling (SFBC) atauSolution Focus Brief
Therapy (SFBT).
SEJARAH PERKEMBANGAN
Seperti namanya, ini
adalah tentang terapi yang singkat dan berfokus pada solusi, bukan pada
masalah. Ketika ada masalah, banyak profesional menghabiskan banyak waktu
berpikir, berbicara, dan menganalisis permasalahan, sementara penderitaan yang
dialami konseli sedang berlangsung. Terpikir tim profesional kesehatan mental
di pusat terapi singkat keluarga yang begitu banyak waktu dan energi, serta
sumber daya banyak, dihabiskan untuk berbicara tentang masalah, daripada
berpikir tentang apa yang mungkin membantu konseli untuk mendapatkan solusi
yang akan membawa pada realistis, bantuan wajar secepat mungkin. Oleh karena
itulah muncul terapi singkat berfokus solusi.
Terapi singkat berfokus
solusi adalah salah satu pendekatan keluarga, yang dikenal sebagai terapi
sistem, yang telah dikembangkan selama 50 tahun terakhir ini, pertama di
Amerika Serikat, dan akhirnya berkembang di seluruh dunia, termasuk Eropa.
Terapi singkat berfokus solusi disebut hanya sebagai “terapi berfokus solusi
(TBS)” atau “terapi singkat”.
Pelopor terapi singkat
berfokus solusi adalah Insoo Kim Berg dan Steve de Shazer, serta praktisi
konseling singkat berfokus solusi berbasis sekolah dan ahli lainnya. Kita
terfokus kepada segi-segi pokok dari teori konseling singkat berfokus solusi,
khususnya cara dimana para praktisi berfokus solusi berpikir tentang perubahan,
kapasitas konseli, dan sifat resistensi konseli.
Sejak diciptakan pada
tahun 1980-an, terapi singkat berfokus solusi (konseling singkat berfokus
solusi) perlahan-lahan telah menjadi sebuah pilihan perlakuan yang umum dan
diterima bagi beberapa ahli kesehatan jiwa. Dengan penekanannya terhadap
kekuatan konseli dan pengobatan jangka pendek, konseling singkat berfokus
solusi akan tampak sangat sesuai dengan konteks kesehatan mental (jiwa), dengan
berbagai masalah yang timbul di lingkungan sekolah dan muatan kasus yang besar
untuk sebagian besar pekerja sosial sekolah (guru BK di sekolah).
Salah satu gagasan yang
lebih bebas tentang konseling singkat berfokus solusi adalah bahwa perubahan selalu
terjadi, dan menuntut agar perhatian konselor terfokus kepada
perubahan-perubahan kecil yang membuat perbedaan-perbedaan besar dalam
kehidupan konseli. Apa yang konselor lakukan dengan perubahan-perubahan kecil
yang kadang-kadang sulit untuk dilihat adalah apa yang membuat konselor menjadi
konselor konseling singkat berfokus solusi. Hal ini membuat konselor bergerak
menuju konseling yang lebih berfokus kepada solusi dalam pendekatan-pendekatan
mereka terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi.
HAKIKAT MANUSIA
Terapi singkat berfokus
solusi didasarkan pada asumsi yang optimistik bahwa manusia itu sehat dan
kompeten serta memiliki kemampuan untuk membangun solusi yang dapat
meningkatkan hidupnya. Lepas dari berbentuk seperti apapun konseli yang terlibat
dalam terapi adalah mampu. Konseli adalah kompeten dan peran konselor adalah
membantu konseli agar menyadari bahwa ia mempunyai kemampuan itu. Proses terapi
menyediakan suatu keadaan yang menjadikan individu memfokuskan diri pada
pemulihan dan penciptaan solusi ketimbang membicarakan problem mereka.
Sering konseli datang ke
terapis/konselor, orientasinya ia dalam keadaan bermasalah kendatipun dia
memiliki beberapa solusi, tetapi pandangan mereka telah berbalut dalam kekuatan
orientasi masalah. Konseli sering memiliki satu riwayat yang berakar dalam
pandangan mereka. Konseling singkat berfokus solusi membalas kehadiran konseli
dengan percakapan yang optimistik yang memberikan garis-garis besar keyakinan
mereka ke dalam tujuan yang dapat digunakan dan dicapai yang ada di sekitar
ruangan. Konselor menjadi alat di dalam membantu orang dalam melakukan
perpindahan dari suatu keadaan bermasalah ke suatu dunia yang memiliki berbagai
kemungkinan. Konselor mendorong dan menantang konseli untuk menulis suatu cerita
yang berbeda yang dapat mengarah kepada suatu tujuan baru.
PERKEMBANGAN PERILAKU
Struktur Kepribadian
Struktur
kepribadian manusia berdasarkan teori konseling singkat berfokus solusi adalah
sebagai berikut.
1.
Konseling singkat
berfokus solusi tidak menggunakan teori kepribadian dan psikopatologi yang ada
saat ini.
2.
Konselor tidak bisa
memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu.
3.
Konselor perlu tahu apa
yang membuat orang memasuki masa depan yang lebih baik dan sehat, yaitu tujuan
yang lebih baik dan sehat.
4.
Individu tidak bisa
mengubah masa lalu, tetapi bisa mengubah tujuannya.
5.
Tujuan yang lebih baik
dapat mengatasi masalah dan mengantarkan masa depan yang lebih produktif.
6.
Konselor perlu
mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif, proses
positif, saat ini, praktis, spesifik, kendali konseli dan bahasa konseli.
7.
Sebagai ganti teori
kepribadian dan psikopatologi, masalah dan masa lalu, konseling singkat
berfokus solusi berfokus pada saat ini yang dipandu oleh tujuan positif
yang spesifik yang dibangun berdasarkan bahasa konseli dan dibawah kendalinya.
Pribadi Sehat dan Bermasalah
Pribadi sehat
berdasarkan konseling singkat berfokus solusi adalah sebagai berikut:
1.
Manusia pada dasarnya
kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang/merekonstruksikan
solusi-solusi sehingga mampu menyelesaikan masalahnya.
2.
Tidak berkutat pada
masalah, tetapi fokus pada solusi dan bertindak mewujudkan solusi yang
diinginkan.
Sedangkan pribadi
bermasalah menurut konseling singkat berfokus solusi adalah sebagai berikut:
1.
Mengkonstruk kelemahan
diri. Dengan cara mengkonstruk cerita yang diberi label “masalah” dan meyakini
bahwa ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.
2.
Berkutat pada masalah
dan merasa tidak mampu menggunakan solusi yang dibuatnya.
HAKIKAT KONSELING
Konseling berfokus
solusi sebagai model yang menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana
mereka dapat meraih tujuan mereka. Berikut ini beberapa asumsi dasar konseling
singkat berfokus solusi:
1.
Individu-individu yang
datang konseling telah mempunyai kemampuan berperilaku efektif, meskipun
keefektifan tersebut mungkin untuk sementara terhambat oleh pikiran negatif.
Pikiran berfokus masalah mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka
dalam menangani masalah.
2.
Ada keuntungan
untuk fokus positif pada solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat
mereorientasi diri mereka dengan mengarahkan kekuatan mereka menggunakan “solution-talk”, merupakan suatu kesempatan bagus dalam
konseling singkat.
3.
Proses konseling
diorientasikan pada peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan yang
menyenangkan) terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses
perubahan.
4.
Konseli sering
mengatakan satu sisi dari diri mereka. Konseling singkat berfokus solusi
mengajak konseli untuk memerika sisi lain dari cerita hidupnya yang
disampaikan.
5.
Perubahan kecil membuka
jalan bagi perubahan besar. Seringkali, perubahan kecil adalah semua yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke konseling.
6.
Konseli ingin berubah,
memiliki kemampuan untuk berubah, dan melakukan yang terbaik untuk membuat
perubahan terjadi. Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan konseli
daripada merancang strategi sendiri untuk mengendalikan hambatan. Ketika
konselor mencari cara untuk kooperatif dengan konseli, maka
perlawanan/resistensi tidak akan terjadi.
7.
Konseli bisa percaya
pada niat mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada solusi yang
“benar” untuk masalah spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang.
Setiap individu unik dan begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.
KONDISI PENGUBAHAN
Bertolino dan
O’Hanlon menekankan pentingnya membuat kolaborasi hubungan
terapeutik dan perlu dilakukan untuk keberhasilan konseling. Diakui
bahwa konselor memiliki keahlian dalam menciptakan konteks untuk
perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah ahli dalam kehidupan mereka
dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa yang harus dan tidak harus
dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang mungkin dilakukan di masa
depan. SFBC mengasumsikan pendekatan kolaboratif dengan konseli berbeda
dengan sikap edukatif yang biasanya dikaitkan dengan model terapi tradisional.
Jika konseli terlibat dalam proses terapeutik dari awal sampai akhir,
perubahan meningkat sehingga konseling akan sangat berhasil. Singkatnya,
hubungan kolaborasi dan kooperatif cenderung lebih efektif dari pada
hubungan hierarki dalam konseling.
Tujuan
Tujuan dari terapi
singkat berfokus solusi adalah sebagai berikut:
1.
Mengubah perilaku yang
tidak sehat menjadi sehat.
2.
Mengantar
konseli/manusia meraih kehidupan yang lebih sehat dan lebih bahagia baik masa
kini maupun ke masa depan.
3.
Membantu konseli
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diinginkan konseli, terjadi di dalam
kehidupan mereka dan terus terjadi.
4.
Membantu konseli
membangun visi yang dipilih untuk masa depan mereka.
5.
Membantu konseli
mengidentifikasi hal-hal yang baik untuk kehidupan mereka saat ini dan ke masa
depan.
6.
Membantu konseli membawa
kesuksesan sekecil apapun ke dalam kesadaran mereka.
7.
Membantu konseli untuk
mengulang keberhasilan yang pernah mereka lakukan.
8.
Pengubahan pandangan
mengenai situasi atau kerangka berpikir, pengubahan cara menghadapi situasi
problematik, dan merekam sumber-sumber dan kekuatan konseli.
9.
Adanya keterlibatan
dalam pemberian bantuan konseli untuk menerima pergantian bahasa dan penyikapan
dari bicara tentang masalah ke bicara tentang solusi. Konseli didorong untuk
terlibat dalam perubahan atau bicara solusi daripada bicara masalah/problem,
dengan asumsi bahwa apa yang kita katakana kebanyakan akan menjadi apa yang
kita hasilkan. Bicara tentang masalah akan menghasilkan masalah berikutnya. Bicara
tentang perubahan akan menghasilkan perubahan. Begitu individu/konseli itu
belajar berbicara dalam pengertian apa yang mereka mampu untuk lakukan secara
baik, sumber-sumber dan kekuatan apa yang mereka punyai, dan apa yang mereka
telah lakukan dan bisa terlaksana, mereka telah mencapai tujuan utama terapi.
Sikap, Peran dan Tugas Konselor
Sikap, peran, dan tugas
konselor dalam terapi singkat berfokus pada solusi adalah:
1.
Mengidentifikasi dan
memandu konseli mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan kompetensi yang dimiliki
konseli
2.
Membantu konseli
mengenali dan membangun perkecualian-perkecualian pada masalah, yaitu saat-saat
ketika konseli telah melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu yang mengurangi
atau membatasi dampak masalah
3.
Melibatkan konseli untuk
berpikir tentang masa depan mereka dan apa yang mereka inginkan yang berbeda di
masa depan
4.
Konselor mengambil
posisi “tidak mengetahui” untuk meletakkan konseli pada posisi sebagai ahli
mengenai kehidupan mereka sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai
ahli yang mengetahui tindakan dan pengalaman konseli
5.
Membantu konseli dalam
mengarahkan perubahan tetapi tidak mendikte konseli apa yang ingin diubah
6.
Konselor berusaha
membentuk hubungan yang kolaboratif dan menciptakan suatu iklim yang respek,
saling menghargai dan membangun suatu dialog yang bisa menggali konseli untuk
mengembangkan kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan mereka
7.
Konsisten dalam membantu
konseli berimajinasi bagaimana mereka menginginkan hal yang berbeda dan apa
yang akan dilakukan untuk membawa perubahan tersebut terjadi dengan menanyakan
“apa yang Anda inginkan dari datang kesini?”, “apa yang akan membuat perbedaan
untukmu?” dan “apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai bahwa perubahan
yang Anda inginkan terjadi?”.
Sikap, Peran dan Tugas Konseli
Sikap, peran, dan tugas
konseli dalam konseling singkat berfokus solusi adalah:
1.
Mau dan mampu
berkolaborasi dengan konselor
2.
Aktif terlibat
dalam proses konseling
3.
Memiliki motivasi untuk
menyelesaikan masalah
Situasi Hubungan
Karena terapi berfokus
solusi dirancang untuk perlangsungan singkat,tak pelak terapis memainkan peran
lebih aktif dalam menggeser fokus secepat mungkin, dari fokus yang tercurah ke
problem fokus yang tercurah ke solusi. Strategi relasiaonal mendasar
difungsikan untuk memicu prakarsa konseli, membantu konseli menumbuhkembangkan
tanggung jawab (kemampuan merespon atau response ability) mereka dan menggunakan kemampuan merespon itu
dengan lebih baik. Begitu konseli bisa berfokus pada solusi, dia pun akan
banyak bisa memegang kendali dan bertanggung jawab.
Konseli pada dasarnya
adalah ahli (expert) yang paling mengetahui
tujuan-tujuan apa yang ingin mereka bangun. Tujuan-tujuan itu selalu unik bagi
setiap konseli dan dibangun konseli untuk menciptakan hari depan yang lebih
baik. Sedangkan klinikus berfokus solusi adalah pakar tentang proses dan
struktur teraapi,pakar dalam membantu konseli membangun tujuan-tujuan mereka
dalam kerangka kerja yang lebih baik menghasilkan solusi yang sukses. Setiap pakar
yaitu konseli dan terapis memberikan andil untuk penumbuhkembangan solusi
bersama. Relasi terapis dengan konseli ditujukan untuk meraih suatu manfaat
atau tujuan. Konseli datang ke terapi karena suatu alasan dan ingin mencapai
suatu manfaat dan tujuan. Kedua kolaborator (konseli dan terapis) perlu membuat
kriteria kemajuan atau keberhasilan pencapaian tujuan, sehingga mereka pun bisa
mengakhiri terapi paada waktu yang tepat.Berdasarkan uraian tersebut kami
merumuskan hubungan antara konselor dan konseli pada terapi singkat berfokus
solusi sebagai berikut :
1.
Konselor berperan lebih
aktif dalam menggeser dari fokus yang tercurah pada problem/masalah ke solusi.
2.
Konselor mendorong
konseli dalam menumbuhkan tanggung jawab, kemampuan merespon (response ability).
3.
Konseli pada dasarnya
lebih ahli (expert) atau yang paling
mengetahui tujuan yang akan mereka bangun.
4.
Hubungan/relasi konselor
dan konseli dalam terapi singkat berfokus solusi bersifat kolaboratif.
MEKANISME PENGUBAHAN
Tahap-Tahap Konseling
Tahap-tahap dalam
konseling singkat berfokus solusi adalah sebagai berikut:
1.
Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses konseling berjalan
lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang kolaboratif antara
konselor dengan konseli.
2.
Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang akan
dipecahkan.
3.
Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling.
4.
Deigning an intervention atau merancang intervensi
5.
Strategic task that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh
konselor untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk
mengamati dengan mengatakan: ”antara sekarang dan waktu mendatang kita
bertemu, saya meminta anda untuk mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan
pada saya pada pertemuan mendatang, apa yang terjadi di kehidupan Anda yang
Anda inginkan terjadi secara berkelanjutan”. Penugasan tersebut mendorong
konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak terelakkan. Hal
tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai merancang perubahan.
6.
Identifying & emphazing new behavior & changes. Yaitu mengidentifikasi dan menguatkan perilaku
baru dan perubahan.
7.
Stabilization atau stabilisasi
8.
Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan yang diajukan konselor
untuk mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: “apa hal berbeda yang
diperlukan dalam hidup Anda yang dihasilkan dengan datang kemari sehingga Anda
mengatakan bahwa pertemuan kita bermanfaat?”, dan “ketika masalah Anda
teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda lakukan?”.
Teknik-Teknik Konseling
Dalam konseling singkat
berfokus solusi, terdapat teknik-teknik yang dapat digunakan dalam proses
konseling. Adapun teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Exeption-Finding Questions: Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari masalah.
KONSELING SINGKAT BERFOKUS SOLUSI didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat
dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah.
Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “news of difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption
question untuk menempatkan
konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang ada
tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika
dimungkinkan masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana
hal itu tidak terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa
pengecualian tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju
solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat
dan ada selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan
sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan menempatkan solusi yang mungkin.
Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini
lebih sering terjadi. Dalam istilah konseling singkat berfokus solusi, hal ini
disebut “change-talk”.
2.
Miracle Questions: Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan
terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan. Konselor
menanyakan “jika suatu keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam
waktu semalam, bagaimana Anda tahu bahwa masalah tersebut terselesaikan, dan
apa yang akan berbeda?”. Konseli kemudian terdorong untuk menegaskan apa yang
mereka inginkan agar merasa lebih percaya diri dan aman, konselor bisa
mengatakan: “biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu meninggalkan kantor hari
ini dan kamu dalam rel untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Hal
berbeda apa yang akan kamu lakukan?”. Mengubah hal yang dilakukann dan cara
pandang terhadap masalah mengubah masalah tersebut. Meminta konseli untuk
mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat membuka celah kemungkinan di masa
depan. Konseli didorong untuk mengikuti mimpinya sebagai cara dalam
mengidentifikasi perubahan apa saja yang paling ingin mereka lihat. Pertanyaan
ini memiliki fokus masa depan bahwa konseli dapat mulai mempertimbangkan
hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak didominasi oleh masalah tertentu.
Intervensi ini menggeser penekanan dari masa lalu dan masalah saat ini
menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
3.
Scaling Questions: Pertanyaan yang meminta konseli menilai kondisi dirinya (masalah,
pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor konseling singkat berfokus
solusi juga menggunakan teknik ini ketika mengubah pengalaman konseli yang
tidak mudah diobservasi, seperti perasaan, keinginan atau komunikasi. Sebagai
contoh, seorang perempuan mengatakan bahwa dia merasa panik atau cemas, bisa
ditanyakan:” pada skala 0-10, dengan 0 adalah apa yang Anda rasakan ketika Anda
pertama kali datang konseling dan 10 sebagai perasaan Anda hari ini setelah
keajaiban terjadi dan masalah Anda teratasi, bagaimana Anda
menyatakan skala kecemasan Anda sekarang?”. Bahkan jika konseli hanya
berkembang dari 0 ke 1, dia telah berkembang. Bagaimana dia melakukan itu? Apa
yang dia perlukan untuk meningkatkan skala? Pertanyaan skala memungkinkan
konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka
dapat mengambil langkah yang akan memandu perubahan yang mereka inginkan.
4.
Coping Questions: Pertanyaan yang meminta konseli mengemukakan pengalaman sukses
dalam menangani masalah yang dihadapi.
5.
Compliments: Pesan tertulis yang
dirancang untuk memuji konseli atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik
positif bagi pencapaian tujuannya.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
Konseling singkat
berfokus solusi memiliki kelemahan dan kelebihan. Adapun kelebihan konseling
singkat berfokus solusi adalah sebagai berikut.
1.
Pendekatan ini
menekankan pada singkatnya waktu konseling
2.
Pendekatan ini fleksibel
dan mempunyai banyak riset yang membuktikan keefektifannya
3.
Pendekatan ini bersifat
positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-beda. Maksudnya, teori
konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat
dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam
meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
4.
Pendekatan ini
difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang menekankan perubahan kecil
pada tingkah laku
5.
Pendekatan ini dapat
dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya
Sedangkan kelemahan
konseling singkat berfokus pada solusi adalah sebagai berikut.
1.
Pendekatan ini hampir
tidak memperhatikan riwayat konseli
2.
Pendekatan ini kurang
memfokuskan pencerahan
3.
Pendekatan ini
menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat perawatan ini
mahal
SUMBER RUJUKAN
Corey, Gerald. 2009.Theory and Practice of
Counseling and Psychotherapy Eigh Edition. USA: Thomson Higher education.
Palmer, Stephen. 2011. Introduction to
Counselling and Psychotherapy (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gladding, Samuel T.
2012. Counseling
a Comprehensive Profession, sixth edition (terjemahan). Jakarta Barat: PT Indeks.
SFBC (Solution Focus Brief Counseling)
- NAMA
PENDEKATAN
Nama pendekatan konseling ini adalah Solution Focus
Brief Counseling.Konseling ini selanjutnya disingkat SFBC, adalah
suatu konseling singkat yang dibangun atas potensi konseli yang sebenarnya
mampu mengkonstruksi solusi dari masalahnya.
- SEJARAH
PERKEMBANGAN
SFBC merupakan salah satu teknik konseling pendekatan
postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di lembaga penelitian jiwa,
SFBC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk fokus pada solusi lengkap.
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memulai pergeseran ini di
pusat terapi singkat di Milwaukee pada akhir tahun 1970an. Setelah tumbuh tidak
puas dengan kendala dari model strategis, pada tahun 1980an de Shazer
berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve Lipchik, John Walter, Jane
Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill O’Hanlon, yang masing-masing menulis
secara ekstensif tentang SFBC dan memulai SFBC di lembaga pelatihan
mereka. Baik O’Hanlon dan Weiner-Davis terpengaruh oleh karya asli de
Shazer, namun mereka memperluas dasar ini dan menciptakan apa yang mereka sebut Solution
– Oriented therapy. Dalam bab ini ketika didiskusikan solution-focused
brief therapy, solution-focused therapy, dan solution-oriented
therapy, lebih difokuskan pada kesamaan pendekatan ini daripada melihat
perbedaannya.
Dua pendiri utama SFBC yaitu INSOO KIM BERG : Sebagai
Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai
pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused
Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan,
Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah
jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan
masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing
solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior
perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT
(1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk
bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui
tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara,
Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
SFBC berbeda dengan dari terapi tradisional dengan mengulas masa
lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan. Konselor fokus pada apa
yang mungkin, dan mereka kurang tertarik dalam mengeksplorasi masalah. De
Shazer mengatakan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk
menyelesaikannya dan tidak perlu menghubungkan antara penyebab masalah denga
solusi. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidak dibutuhkan dalam mengubah
hal yang terjadi.
Jika mengetahui dan memahami masalah itu tidak penting, maka
selanjtnya adalah mencari solusi yang benar. Setiap orang mungkin
mempertimbangkan banyak solusi, dan apa yang benar bagi seseorang bisa jadi
tidak benar menurut orang lain. dalam SFBC, konseli memilih tujuan
penyelesaian yang mereka harapkan, dan sedikit perhatian dalam memberikan
diagnosis, pembicaraan masa lalu, atau eksplorasi masalah.
SFBC dibangun atas dasar asumsi optimis bahwa setiap manusia
adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi
yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan optimal. Asumsi pokok dalam
SFBC ini bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup,
walaupun kadang-kadang kita mungkin kehilangan arah atau kesadaran tentang
kemampuan kita. Tanpa memperhatikan apa yang dibentuk konseli ketika mereka
memulai konseling, Berg percaya konseli kompeten dan tugas konselor adalah
untuk membantu konseli mengenali kompetensi yang mereka miliki. Esensi dari
konseling ini adalah melibatkan konseli dalam membangun harapan dan optimis dengan
membuat ekspektasi positif dalam kemungkinan perubahan. SFBC adalah pendekatan
non patologis yang menekankan kompetensi dari pada kekurangan, dan kekuatan
dari pada kelemahan. Model SFBC membutuhkan sikap filosofis dalam
menerima konseli dimana mereka dibantu dalam membuat solusi. O’ Hanlon
mendeskripsikan orientasi positif : “ menumbuhkan solusi – meningkatkan
kehidupan manusia dari pada fokus pada bagian-bagian patologi masalah dan
perubahan menakjubkan dapat terjadi sangat cepat”. Karena konseli sering datang
ke konseling dengan pernyataan “ orientasi masalah”, bahkan sedikit
solusi yang mereka pertimbangkan bersampul dalam kekuatan orientasi masalah.
Konseli sering memiliki cerita yang berakar dalam sebuah pandangan yang
menentukan apa yang terjadi di masa lalu pasti akan membentuk masa depan
mereka. Konselor SFBC menentang pernyataan konseli dengan percakapan optimis
yang menyoroti keyakinan mereka dalam pencapaian , menggunakan tujuan dari
berbagai sudut. Konselor dapat menjadi penolong dalam membantu konseli
membuat pergeseran dari pernyataan masalah ke kondisi dengan
kemungkinan-kemungkinan baru. Konselor dapat mendorong dan menantang
konseli untuk menulis cerita yang berbeda yang dapat menyebabkan akhir yang
baru.
- HAKIKAT
MANUSIA
Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif
tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli.
Konseling berfokus solusi menganggap manusia bersifat konstruktivis. Sehingga,
konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi bahwa manusia benar-benar
ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.
- PERKEMBANGAN
PERILAKU
1. STRUKTUR KEPRIBADIAN
Struktur kepribadian manusia berdasarkan teori SFBC adalah
sebagai berikut:
a. SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan
psikopatologi yang ada saat ini
b. Konselor tidak bisa memahami secara pasti
tentang penyebab masalah individu
c. Konselor perlu tahu apa yang membuat orang
memasuki masa depan yang lebih baik dan sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan
sehat
d. Individu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi
bisa mengubah tujuannya
e. Tujuan yang lebih baik dapat mengatasi masalah
dan mengantarkan masa depan yang lebih produktif
f. Konselor perlu mengetahui karakteristik tujuan
konseling yang baik dan produktif, proses positif, saat ini, praktis, spesifik,
kendali konseli dan bahasa konseli
g. Sebagai ganti teori kepribadian dan
psikopatologi, masalah dan masa lalu, SFBC berfokus pada saat ini yang dipandu
oleh tujuan positif yang spesifik yang dibangun berdasarkan bahasa
konseli dan dibawah kendalinya.
2. PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
Pribadi sehat
berdasarkan teori SFBC adalah:
a. Manusia pada dasarnya kompeten, memiliki
kapasitas untuk membangun, merancang/ merekonstruksikan solusi-solusi sehingga
mampu menyelesaikan masalahnya
b. Tidak berkutat pada masalah, tetapi fokus pada
solusi dan bertindak mewujudkan solusi yang diinginkan
Pribadi bermasalah
menurut SFBC adalah:
a. Mengkonstruk kelemahan diri. Dengan cara
mengkonstruk cerita yang diberi label “masalah” dan meyakini bahwa
ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.
b. Berkutat pada masalah dan merasa tidak
mampu menggunakan solusi yang dibuatnya.
- HAKIKAT
KONSELING
Walter dan Peller berpikir mengenai konseling berfokus solusi
sebagai model yang menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana mereka
dapat meraih tujuan mereka. Berikut ini beberapa asumsi dasar SFBC:
1. Individu-individu yang datang konseling telah
mempunyai kemampuan berperilaku efektif, meskipun keefektifan tersebut mungkin
untuk sementara terhambat oleh pikiran negatif. Pikiran berfokus masalah
mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka dalam menangani masalah
2. Ada keuntungan untuk fokus positif pada
solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat mereorientasi diri mereka dengan
mengarahkan kekuatan mereka menggunakan “ solution –talk” ,
merupakan suatu kesempatan bagus dalam konseling singkat
3. Proses konseling diorientasikan pada
peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan yang menyenangkan)
terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses perubahan
4. Konseli sering mengatakan satu sisi dari diri
mereka. SFBC mengajak konseli untuk memerika sisi lain dari cerita hidupnya
yang disampaikan.
5. Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan
besar. Seringkali, perubahan kecil adalah semua yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke konseling
6. Konseli ingin berubah, memiliki kemampuan
untuk berubah, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi.
Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan konseli daripada merancang
strategi sendiri untuk mengendalikan hambatan. Ketika konselo mencari
cara untuk kooperatif dengan konseli, maka perlawanan/ resistensi tidak akan
terjadi.
7. Konseli bisa percaya pada niat mereka untuk
menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada solusi yang “benar” untuk masalah
spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang. Setiap individu unik dan
begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.
- KONDISI
PENGUBAHAN
Bertolino dan O’Hanlon menekankan pentingnya membuat
kolaborasi hubungan terapeutik dan perlu dilakukan untuk
keberhasilan konseling. Diakui bahwa konselor memiliki keahlian dalam
menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah
ahli dalam kehidupan mereka dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa
yang harus dan tidak harus dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang
mungkin dilakukan di masa depan. SFBC mengasumsikan pendekatan
kolaboratif dengan konseli berbeda dengan sikap edukatif yang biasanya
dikaitkan dengan model terapi tradisional. Jika konseli terlibat dalam proses
terapeutik dari awal sampai akhir, perubahan meningkat sehingga konseling
akan sangat berhasil. Singkatnya, hubungan kolaborasi dan kooperatif
cenderung lebih efektif dari pada hubungan hierarki dalam konseling.
1. TUJUAN
SFBC menawarkan beberapa bentuk tujuan:
- Mengubah cara pandang situasi atau kerangka
pikir
- Mengubah situasi masalah dan menekankan pada
kekuatan dan sumber daya konseli
- Konseli didorong untuk terlibat dalam
perubahan atau “ solution talk”, dari pada “problem talk”
dengan asumsi bahwa apa yang dibicarakan adalah sebagian besar apa yang akan
dihasilkan
- Berbicara tentang perubahan dapat menghasilkan
perubahan. Secepat individu belajar untuk berbicara dalam istilah
kemampuan dan kompetensi mereka, apa sumber daya dan kekuatan yang
mereka miliki, dan apa yang siap mereka lakukan dan mengerjakannya,
mereka dapat mencapai hal utama dalam konseling.
2. SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
- Mengidentifikasi dan memandu konseli
mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan kompetensi yang dimiliki konseli
- Membantu konseli mengenali dan membangun
perkecualian-perkecualian pada masalah, yaitu saat-saat ketika konseli telah
melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu yang mengurangi atau membatasi dampak
masalah
- Melibatkan konseli untuk berpikir tentang masa
depan mereka dan apa yang mereka inginkan yang berbeda di masa depan
- Konselor mengambil posisi “ tidak mengetahui”
untuk meletakkan konseli pada posisi sebagai ahli mengenai kehidupan mereka
sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai ahli yang mengetahui
tindakan dan pengalaman konseli
- Membantu konseli dalam mengarahkan perubahan
tetapi tidak mendikte konseli apa yang ingin diubah
- Konselor berusaha membentuk hubungan yang
kolaboratif dan menciptakan suatu iklim yang respek, saling menghargai dan
membangun suatu dialog yang bisa menggali konseli untuk mengembangkan
kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan mereka
- Konsisten dalam membantu konseli berimajinasi
bagaimana mereka menginginkan hal yang berbeda dan apa yang akan dilakukan
untuk membawa perubahan tersebut terjadi dengan menanyakan “ apa yang Anda
inginkan dari datang kesini?”, “apa yang akan membuat perbedaan untukmu?” dan “
apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai bahwa perubahan yang Anda inginkan
terjadi?.
3. SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI
- Mau dan mampu berkolaborasi dengan konselor
- Aktif terlibat dalam proses konseling
- Memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah
- MEKANISME
PENGUBAHAN
1. TAHAP-TAHAP KONSELING
a. Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses
konseling berjalan lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang
kolaboratif antara konselor dengan konseli.
b. Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang
akan dipecahkan.
c. Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai
dalam proses konseling.
d. Deigning an intervention atau merancang intervensi
e. Strategic task that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh
konselor untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk
mengamati dengan mengatakan:” antara sekarang dan waktu mendatang kita
bertemu, saya meminta anda untuk mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan
pada saya pada pertemuan mendatang, apa yang terjadi di kehidupan Anda yang Anda
inginkan terjadi secara berkelanjutan”. Penugasan tersebut
mendorong konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak
terelakkan. Hal tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai
merancang perubahan.
f. Identifying & emphazing new behavior &
changes. Yaitu mengidentifikasi
dan menguatkan perilaku baru dan perubahan.
g. Stabilization atau stabilisasi
h. Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan
yang diajukan konselor untuk mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: “
apa hal berbeda yang diperlukan dalam hidup Anda yang dihasilkan dengan datang
kemari sehingga Anda mengatakan bahwa pertemuan kita bermanfaat?”, dan “ ketika
masalah Anda teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda lakukan?”.
2. TEKNIK-TEKNIK KONSELING
· Exeption-Finding Questions : Pertanyaan tentang saat-saat dimana
konseli bebas dari masalah. SFBT didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat
dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah.
Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of difference”.
Konselor SFBC mengajukan ask exeption question untuk menempatkan konseli pada
waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang ada tidak kuat.
Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika
dimungkinkan masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana
hal itu tidak terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa
pengecualian tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju
solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat
dan ada selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan
sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan menempatkan solusi yang mungkin.
Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini
lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut “change-talk”.
Miracle Questions : Pertanyaan yang mengarahkan konseli
berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib
terselesaikan. Konselor menanyakan “ jika suatu keajaiban terjadi dan masalah
Anda terpecahkan dalam waktu semalam, bagaimana Anda tahu bahwa masalah
tersebut terselesaikan, dan apa yang akan berbeda?”. Konseli kemudian terdorong
untuk menegaskan apa yang mereka inginkan agar merasa lebih percaya diri dan
aman, konselor bisa mengatakan: “ biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu
meninggalkan kantor hari ini dan kamu dalam rel untuk bertindak lebih
percaya diri dan aman. Hal berbeda apa yang akan kamu lakukan?”. Mengubah hal
yang dilakukann dan cara pandang terhadap masalah mengubah masalah
tersebut. Meminta konseli untuk mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat
membuka celah kemungkinan di masa depan. Konseli didorong untuk mengikuti
mimpinya sebagai cara dalam mengidentifikasi perubahan apa saja yang paling
ingin mereka lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa konseli
dapat mulai mempertimbangkan hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak
didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan dari
masa lalu dan masalah saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa
depan.
Scaling Questions : Pertanyaan yang meminta konseli menilai
kondisi dirinya (masalah, pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor
SFBC juga menggunakan teknik ini ketika mengubah pengalaman konseli yang tidak
mudah diobservasi, seperti perasaan, keinginan atau komunikasi. Sebagai contoh,
seorang perempuan mengatakan bahwa dia merasa panik atau cemas, bisa
ditanyakan:” pada skala 0-10, dengan 0 adalah apa yang Anda rasakan ketika Anda
pertama kali datang konseling dan 10 sebagai perasaan Anda hari ini setelah
keajaiban terjadi dan masalah Anda teratasi, bagaimana Anda
menyatakan skala kecemasan Anda sekarang?”. Bahkan jika konseli hanya
berkembang dari 0 ke 1, dia telah berkembang. Bagaimana dia melakukan itu? Apa
yang dia perlukan untuk meningkatkan skala? Pertanyaan skala memungkinkan
konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka
dapat mengambil langkah yang akan memandu perubahan yang mereka inginkan.
Coping Questions : Pertanyaan yang meminta konseli
mengemukakan pengalaman sukses dalam menangani masalah yang dihadapi.
Compliments : Pesan tertulis yang dirancang untuk
memuji konseli atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik positif bagi
pencapaian tujuannya.
- HASIL-HASIL
PENELITIAN
Penelitian SFBC telah dilakukan oleh Mulawarman dengan judul
Penerapan SFBT untuk meningkatkan harga diri siswa (self esteem) suatu embedded
experimental design. Hasil penelitian dilihat dari hasil secara kuantitatif
ditemukan perbedaan tingkatself esteem siswa sebelum mendapatkan
intervensi SFBT dengan menggunakan Wilcoxon signed rank test,
dimana nilai tersebut adalah 2, 207. Pada sisi kualitatif dengan berdasarkan
pada hasil analisis percakapan ditemukan bahwa harga diri rendah berubah
menjadi harga diri tinggi.
- KELEBIHAN
DAN KELEMAHAN
1. KELEBIHAN
a. Pendekatan ini menekankan pada
singkatnya waktu konseling
b. Pendekatan ini fleksibel dan mempunyai banyak
riset yang membuktikan keefektifannya
c. Pendekatan ini bersifat positif untuk
digunakan dengan konseli yang berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini
didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten
serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam meningkatkan kualitas
hidup mereka dengan optimal.
d. Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan
dasar pemikiran yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
e. Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan
pendekatan konseling lainnya
2. KELEMAHAN
a. Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan
riwayat konseli
b. Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan
c. Pendekatan ini menggunakan tim,
setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat perawatan ini mahal
- SUMBER
RUJUKAN
Corey, Gerald. 2009.Theory and Practice of Counseling and
Psychotherapy Eigh Edition. USA: Thomson Higher education
Palmer, Stephen. 2011. Introduction to Counselling and
Psychotherapy (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gladding, Samuel T.
2012. Counseling a Comprehensive Profession, sixth edition (terjemahan).
Jakarta Barat: PT Indeks
Diposkan oleh Burhan Fantashi di 20.03
POST
MODERN APPROACHES (Pendekatan Post Modern)
POST MODERN APPROACHES
PENDIRI PENDEKATAN MODERN TERAPI
INSOO KIM BERG: Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER: salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
MICHAEL WHITE: membantu pendirian bersama David Epston, ilmu pengobatan terapi naratif, bertempat di Dulwich di Adelaide, Australia. Cinta pada keluarga dan teman-teman, berenang, terbang dengan pesawat kecil, dan bersepeda. Mengantarkan banyak Bukunya: Terapi Naratif untuk tujuan Mengobati (1990), Karangan kehidupan: wawancara and ujian tulis (1995), dan Narratif untuk terapi kehidupan (1997).
DAVID EPSTON: Sebagai pembantu direktur pengembangan terapi Naratif dari pusat terapi keluarga di Auckland, Slandia baru, dan dia sebagai penulis dan guru dari ide-ide naratif, sebagai pelancong internasional, dosen pada pusat pelatihan di Australia, Eropah dan Amerika Utara. Profesional terhadap ancaman kehidupan anak-anak berpenyakit Asma, berjuang untuk kelompok wanita penyandang Anoreksia, dan melibatkan ayah yang dilepas oleh anak-anaknya. Penulis buku Makna Akhir Terapi Naratif (1990), Terapi Naratif untuk Anak dan Keluarga (1997). Suka bersepeda dan mencintai istrinya Anne di rumah pengasingan di sebuah pulau Waiheke.
PENGANTAR CONSTRUCTIONISM SOSIAL
Masing-masing model konseling dan psikoterapi yang telah kita pelajari sejauh ini memiliki versi sendiri “realitas”. Seringkali “kebenaran” bertentangan yang menyebabkan meningkatnya skeptisisme. Kita telah memasuki dunia postmodern di mana kebenaran dan realitas sering dipahami sebagai sudut pandang yang dibatasi oleh konteks sejarah dan bukan sebagai objektif, fakta-fakta kekal.Modernis lebih percaya pada realitas independen dari setiap percobaan untuk mengamatinya, orang mencari terapi untuk masalah ketika mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma objektif. Sebaliknya Postmodernis, percaya pada realitas subyektif yang tidak ada proses observasi independen.
Constructionism sosial adalah perspektif terapeutik dalam pandangan postmodern: yang menekankan realitas klien apakah akurat atau rasional (Weishaar, 1993). Constructionists sosial realitas didasarkan pada penggunaan bahasa dan sebagian besar fungsi dari situasi di mana orang hidup dibangun secara sosial.
Dalam pemikiran postmodern, menggunakan bahasa dalam cerita-cerita, untuk menceritakan kisah-kisah, dan masing-masing kisah-kisah ini benar bagi orang yang mengatakannya. Setiap orang yang terlibat dalam suatu situasi memiliki perspektif tentang “realitas”.
Kenneth Gergen (1985, 1991, 1999) mulai menekankan cara-cara di mana orang-orang membuat makna dalam hubungan sosial. Berger dan Luckman (1967) yang terkenal sebagai orang pertama yang menggunakan istilah constructionism sosial, dan itu menandakan pergeseran penekanan dalam sistem keluarga individu dan psikoterapi.
PENDIRI PENDEKATAN MODERN TERAPI
INSOO KIM BERG: Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER: salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
MICHAEL WHITE: membantu pendirian bersama David Epston, ilmu pengobatan terapi naratif, bertempat di Dulwich di Adelaide, Australia. Cinta pada keluarga dan teman-teman, berenang, terbang dengan pesawat kecil, dan bersepeda. Mengantarkan banyak Bukunya: Terapi Naratif untuk tujuan Mengobati (1990), Karangan kehidupan: wawancara and ujian tulis (1995), dan Narratif untuk terapi kehidupan (1997).
DAVID EPSTON: Sebagai pembantu direktur pengembangan terapi Naratif dari pusat terapi keluarga di Auckland, Slandia baru, dan dia sebagai penulis dan guru dari ide-ide naratif, sebagai pelancong internasional, dosen pada pusat pelatihan di Australia, Eropah dan Amerika Utara. Profesional terhadap ancaman kehidupan anak-anak berpenyakit Asma, berjuang untuk kelompok wanita penyandang Anoreksia, dan melibatkan ayah yang dilepas oleh anak-anaknya. Penulis buku Makna Akhir Terapi Naratif (1990), Terapi Naratif untuk Anak dan Keluarga (1997). Suka bersepeda dan mencintai istrinya Anne di rumah pengasingan di sebuah pulau Waiheke.
PENGANTAR CONSTRUCTIONISM SOSIAL
Masing-masing model konseling dan psikoterapi yang telah kita pelajari sejauh ini memiliki versi sendiri “realitas”. Seringkali “kebenaran” bertentangan yang menyebabkan meningkatnya skeptisisme. Kita telah memasuki dunia postmodern di mana kebenaran dan realitas sering dipahami sebagai sudut pandang yang dibatasi oleh konteks sejarah dan bukan sebagai objektif, fakta-fakta kekal.Modernis lebih percaya pada realitas independen dari setiap percobaan untuk mengamatinya, orang mencari terapi untuk masalah ketika mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma objektif. Sebaliknya Postmodernis, percaya pada realitas subyektif yang tidak ada proses observasi independen.
Constructionism sosial adalah perspektif terapeutik dalam pandangan postmodern: yang menekankan realitas klien apakah akurat atau rasional (Weishaar, 1993). Constructionists sosial realitas didasarkan pada penggunaan bahasa dan sebagian besar fungsi dari situasi di mana orang hidup dibangun secara sosial.
Dalam pemikiran postmodern, menggunakan bahasa dalam cerita-cerita, untuk menceritakan kisah-kisah, dan masing-masing kisah-kisah ini benar bagi orang yang mengatakannya. Setiap orang yang terlibat dalam suatu situasi memiliki perspektif tentang “realitas”.
Kenneth Gergen (1985, 1991, 1999) mulai menekankan cara-cara di mana orang-orang membuat makna dalam hubungan sosial. Berger dan Luckman (1967) yang terkenal sebagai orang pertama yang menggunakan istilah constructionism sosial, dan itu menandakan pergeseran penekanan dalam sistem keluarga individu dan psikoterapi.
De Jong dan Berg (2002)
tentang tugas terapis yang baik:
Kami tidak melihat diri kita sebagai ahli, namun menilai secara ilmiah masalah klien dan kemudian melakukan intervensi.
Sebaliknya, kami berusaha untuk menjadi ahli dalam menjajaki klien ‘kerangka acuan dan mengidentifikasi orang-orang, persepsi klien dapat digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan.
Empati dan kemitraan kolaboratif dalam proses terapeutik lebih penting daripada penilaian atau teknik.
Cerita dan proses-proses bahasa (linguistik) menjadi fokus bagi kedua pemahaman individu dan membantu mereka membangun perubahan yang diinginkan.
Kami tidak melihat diri kita sebagai ahli, namun menilai secara ilmiah masalah klien dan kemudian melakukan intervensi.
Sebaliknya, kami berusaha untuk menjadi ahli dalam menjajaki klien ‘kerangka acuan dan mengidentifikasi orang-orang, persepsi klien dapat digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan.
Empati dan kemitraan kolaboratif dalam proses terapeutik lebih penting daripada penilaian atau teknik.
Cerita dan proses-proses bahasa (linguistik) menjadi fokus bagi kedua pemahaman individu dan membantu mereka membangun perubahan yang diinginkan.
Empat asumsi utama Teori
konstruksionis sosial (Burn, 1995), yang membentuk perbedaan antara
postmodernisme dan tradisional perspektif psikologis;
Pertama, teori konstruksionis sosial sikap kritis diambil-untuk-knewledge diberikan. Constructionists sosial tantangan pengetahuan konvensional yang secara historis menuntun pemahaman kita tentang dunia, dan mereka hati-hati untuk bersikap curiga terhadap asumsitions tentang bagaimana dunia tampaknya.
Kedua, kunstruksinis sosial percaya bahasa dan konsep umum yang kita gunakan untuk memahami dunianya dan budaya spesifik.
Ke tiga, constructionists sosial menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui proses-proses sosial. Apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” adalah produk antara orang-orang dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, pemahaman negosiasi, atau “konstruksi sosial”, seperti danau yang luas yang berbeda-beda bentuk.
Pertama, teori konstruksionis sosial sikap kritis diambil-untuk-knewledge diberikan. Constructionists sosial tantangan pengetahuan konvensional yang secara historis menuntun pemahaman kita tentang dunia, dan mereka hati-hati untuk bersikap curiga terhadap asumsitions tentang bagaimana dunia tampaknya.
Kedua, kunstruksinis sosial percaya bahasa dan konsep umum yang kita gunakan untuk memahami dunianya dan budaya spesifik.
Ke tiga, constructionists sosial menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui proses-proses sosial. Apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” adalah produk antara orang-orang dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, pemahaman negosiasi, atau “konstruksi sosial”, seperti danau yang luas yang berbeda-beda bentuk.
Historical Glimpse
Constructionism Social
(Sejarah pandangan construsionism sosial)
Freud, Adler, dan Jung adalah bagian dari paradigma besar pergeseran yang mengubah psikologi maupun filsafat, ilmu pengetahuan, medis, dan bahkan seni. Pada abad ke-21, postmodern konstruksi alternatif sumber pengetahuan tampaknya menjadi salah satu pergeseran paradigma yang paling mungkin mempengaruhi bidang psikoterapi. Penciptaan diri, yang begitu mendominasi modernis mencari hakikat manusia dan kebenaran. Untuk beberapa constructionists sosial proses “mengetahui” termasuk sebuah ketidakpercayaan dari posisi yang dominan menyerap budaya keluarga dan masyarakat hari ini (White & Epston, 1990), dan perubahan dimulai dengan dekonstruksi kekuatan narasi budaya dan kemudian dilanjutkan dengan co-konstruksi kehidupan makna baru.
Ada sejumlah perspektif praktek terapi postmodern, yang paling terkenal adalah pendekatan sistem bahasa kolaboratif (Anderson & Goolishian, 1992), yang berfokus pada solusi terapi singkat (de Shazer, 1985, 1988, 1991, 1994), berorientasi solusi terapi (Bertolino & O’Hanlon, 2002; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989), dan narasi terapi (White & Epston, 1990). Bagian berikutnya membahas bahasa kolaboratif pendekatan sistem, tapi bab ini membahas dua dari pendekatan postmodern yakni: berfokus pada solusi terapi dan narasi terapi singkat.
(Sejarah pandangan construsionism sosial)
Freud, Adler, dan Jung adalah bagian dari paradigma besar pergeseran yang mengubah psikologi maupun filsafat, ilmu pengetahuan, medis, dan bahkan seni. Pada abad ke-21, postmodern konstruksi alternatif sumber pengetahuan tampaknya menjadi salah satu pergeseran paradigma yang paling mungkin mempengaruhi bidang psikoterapi. Penciptaan diri, yang begitu mendominasi modernis mencari hakikat manusia dan kebenaran. Untuk beberapa constructionists sosial proses “mengetahui” termasuk sebuah ketidakpercayaan dari posisi yang dominan menyerap budaya keluarga dan masyarakat hari ini (White & Epston, 1990), dan perubahan dimulai dengan dekonstruksi kekuatan narasi budaya dan kemudian dilanjutkan dengan co-konstruksi kehidupan makna baru.
Ada sejumlah perspektif praktek terapi postmodern, yang paling terkenal adalah pendekatan sistem bahasa kolaboratif (Anderson & Goolishian, 1992), yang berfokus pada solusi terapi singkat (de Shazer, 1985, 1988, 1991, 1994), berorientasi solusi terapi (Bertolino & O’Hanlon, 2002; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989), dan narasi terapi (White & Epston, 1990). Bagian berikutnya membahas bahasa kolaboratif pendekatan sistem, tapi bab ini membahas dua dari pendekatan postmodern yakni: berfokus pada solusi terapi dan narasi terapi singkat.
The Collaborative Language
Systems Approach
(Pendekatan sistem bahasa yang colaboratif)
Dinyatakan oleh Harlen Anderson dan almarhum Harold Goolishian (1992) dari Institut Galveston Houston. Lebih menolak terapis dikontrol dan intervensi berdasarkan teori-lain pendekatan terapeutik Amerika Utara, Anderson dan terapi Goolishian mengembangkan kepedulian dengan klien. Sikap mereka mirip dengan Carl Rogers. Sistem sosiokultural di mana orang hidup adalah produk interaksi sosial, bukan sebaliknya. Ketika orang mencari terapi, mereka sering “terjebak” dalam sistem dialogis yang memiliki bahasa yang unik, makna, dan proses yang terkait dengan “masalahnya.
“Dalam pendekatan ini pertanyaan-pertanyaan yang diminta terapis selalu diinformasikan oleh klien. Terapis memasuki sesi dengan beberapa pengertian dari arahan atau dari apa yang diinginkan klien. Jawaban klien menyediakan informasi yang merangsang kepentingan therapist, masih dalam penyelidikan postur, dan pertanyaan lain merupakan hasil dari setiap jawaban yang diberikan. Suatu cerita adalah representasi pengalaman; itu membangun sejarah di masa sekarang” (Anderson & Goolishian, 1992).
Percakapan berkembang menjadi dialog makna baru, constructing kemungkinan naratif baru. Therapis telah menanamkan sebagai kedua konsep kunci; yang berfokus pada solusi dan pendekatan terapi naratif.
(Pendekatan sistem bahasa yang colaboratif)
Dinyatakan oleh Harlen Anderson dan almarhum Harold Goolishian (1992) dari Institut Galveston Houston. Lebih menolak terapis dikontrol dan intervensi berdasarkan teori-lain pendekatan terapeutik Amerika Utara, Anderson dan terapi Goolishian mengembangkan kepedulian dengan klien. Sikap mereka mirip dengan Carl Rogers. Sistem sosiokultural di mana orang hidup adalah produk interaksi sosial, bukan sebaliknya. Ketika orang mencari terapi, mereka sering “terjebak” dalam sistem dialogis yang memiliki bahasa yang unik, makna, dan proses yang terkait dengan “masalahnya.
“Dalam pendekatan ini pertanyaan-pertanyaan yang diminta terapis selalu diinformasikan oleh klien. Terapis memasuki sesi dengan beberapa pengertian dari arahan atau dari apa yang diinginkan klien. Jawaban klien menyediakan informasi yang merangsang kepentingan therapist, masih dalam penyelidikan postur, dan pertanyaan lain merupakan hasil dari setiap jawaban yang diberikan. Suatu cerita adalah representasi pengalaman; itu membangun sejarah di masa sekarang” (Anderson & Goolishian, 1992).
Percakapan berkembang menjadi dialog makna baru, constructing kemungkinan naratif baru. Therapis telah menanamkan sebagai kedua konsep kunci; yang berfokus pada solusi dan pendekatan terapi naratif.
SOLUTIONS FOCUSED BRIEF THERAPY(SFBT)
(Solusi-Fokus Terapi Singkat)
Key Concepts
De Shazer (1988, 1991) menunjukkan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya, dan bahwa tidak ada hubungan antara masalah dan solusi mereka.
Mengumpulkan informasi tentang problem tidak diperlukan untuk perubahan, kecuali: Jika mengetahui problem dan memahami problem tidak penting, jadi mencari solusi yang “benar”.
Setiap orang mungkin mempertimbangkan beberapa solusi, dan apa yang benar bagi satu orang mungkin tidak cocok untuk orang lain. (Bertolino & (? ‘Hanlon, 2002; Gingerich & Eisengart, 2000; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989).
ORIENTASI POSITIF; Solusi
yang berfokus pada terapi singkat (SFBT) didasarkan pada asumsi bahwa
orang-orang yang sehat dan berkompeten, memiliki kemampuan untuk membangun
solusi yang dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Proses terapeutik menyediakan suatu konteks dimana individu fokus pada pemulihan dan menciptakan solusinya, bukan membicarakan masalah mereka. O’Hanlon (1994) menggambarkan orientasi positif ini: “mengembangkan solusi-meningkatkan kehidupan bagian dari kehidupan manusia daripada berfokus pada masalah dan perubahan luar biasa dapat terjadi sangat cepat”.
Terapis dapat berperan dalam membantu orang dalam membuat suatu pergeseran dari masalah dengan kemungkinan-kemungkinan baru, dapat mendorong dan menantang klien untuk menulis cerita yang berbeda dan berakhir pada sesuatu yang baru (O’Hanlon, dikutip dalam Bubenzer & West, 1993).
Proses terapeutik menyediakan suatu konteks dimana individu fokus pada pemulihan dan menciptakan solusinya, bukan membicarakan masalah mereka. O’Hanlon (1994) menggambarkan orientasi positif ini: “mengembangkan solusi-meningkatkan kehidupan bagian dari kehidupan manusia daripada berfokus pada masalah dan perubahan luar biasa dapat terjadi sangat cepat”.
Terapis dapat berperan dalam membantu orang dalam membuat suatu pergeseran dari masalah dengan kemungkinan-kemungkinan baru, dapat mendorong dan menantang klien untuk menulis cerita yang berbeda dan berakhir pada sesuatu yang baru (O’Hanlon, dikutip dalam Bubenzer & West, 1993).
MENCARI KERJA APA; Individu
membawa cerita untuk terapi. Beberapa digunakan untuk membenarkan keyakinan
kehidupan mereka, data tidak dapat diubah atau, lebih buruk lagi bahwa hidup
akan bergerak semakin jauh dari tujuan mereka. Terapis yang berfokus solusi
Singkat membantu klien dalam memberi perhatian pada pengecualian untuk pola
masalah mereka (Miller, Hubble, & Duncan, 1996). SFBT berfokus pada mencari
tahu apa yang dilakukan orang-orang yang bekerja dan kemudian membantu mereka
dalam menerapkan budaya untuk menghilangkan masalah dalam jumlah waktu yang
sesingkat mungkin. O’Hanlon (1999) menyatakan: “itu mendorong orang untuk
pindah dari sifat menganalisis masalah yang muncul dan sebagai gantinya mulai
mencari solusi dan mengambil tindakan pemecahannya”
Ada berbagai cara untuk membantu klien dalam berpikir entang apa yang telah mereka kerjakan. De Shazer (1991) lebih memilih untuk melibatkan klien dalam percakapan yang mengarah ke cerita progresif dimana orang menciptakan situasi, mereka lebih mantap pada tujuan.
ASUMSI DASAR PEMANDU PRAKTIK; Walter dan Peller (1992, 2000)
Beberapa asumsi dasar tentang terapi yang berfokus pada solusi:
Ada beberapa keuntungan positif dan fokus pada solusi di masa depan. Jika klien dapat. Reorientasi diri dalam arah kekuatan mereka menggunakan solusi-talk, ada kesempatan baik terapi dapat singkat
Orang yang datang untuk terapi memang memiliki kemampuan cara bertindak secara efektif, mengenali mereka telah berurusan dengan masalah.
Ada pengecualian untuk setiap masalah. Berbicara tentang pengecualian, klien bisa mendapatkan kontrol atas apa yang menjadi problem dapat diatasi. Iklim pengecualian ini memungkinkan untuk menciptakan kemungkinan solusi.
Klien sering hadir hanya satu sisi dari diri mereka sendiri. Solusi terapis berfokus mengundang klien untuk memeriksa sisi lain dari cerita yang mereka sajikan.
Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.
Klien ingin mengubah, memiliki kapasitas untuk perubahan, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Terapis harus mengadopsi kerjasama operasi posisi dengan klien daripada merancang strategi untuk mengendalikan pola resistif.
Klien bisa dipercaya dalam keinginan mereka untuk memecahkan masalah mereka. Tidak ada “benar” solusi untuk masalah-masalah tertentu yang dapat diterapkan untuk semua orang. Setiap individu adalah unik dan begitu juga, adalah setiap solusi.
Ada berbagai cara untuk membantu klien dalam berpikir entang apa yang telah mereka kerjakan. De Shazer (1991) lebih memilih untuk melibatkan klien dalam percakapan yang mengarah ke cerita progresif dimana orang menciptakan situasi, mereka lebih mantap pada tujuan.
ASUMSI DASAR PEMANDU PRAKTIK; Walter dan Peller (1992, 2000)
Beberapa asumsi dasar tentang terapi yang berfokus pada solusi:
Ada beberapa keuntungan positif dan fokus pada solusi di masa depan. Jika klien dapat. Reorientasi diri dalam arah kekuatan mereka menggunakan solusi-talk, ada kesempatan baik terapi dapat singkat
Orang yang datang untuk terapi memang memiliki kemampuan cara bertindak secara efektif, mengenali mereka telah berurusan dengan masalah.
Ada pengecualian untuk setiap masalah. Berbicara tentang pengecualian, klien bisa mendapatkan kontrol atas apa yang menjadi problem dapat diatasi. Iklim pengecualian ini memungkinkan untuk menciptakan kemungkinan solusi.
Klien sering hadir hanya satu sisi dari diri mereka sendiri. Solusi terapis berfokus mengundang klien untuk memeriksa sisi lain dari cerita yang mereka sajikan.
Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.
Klien ingin mengubah, memiliki kapasitas untuk perubahan, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Terapis harus mengadopsi kerjasama operasi posisi dengan klien daripada merancang strategi untuk mengendalikan pola resistif.
Klien bisa dipercaya dalam keinginan mereka untuk memecahkan masalah mereka. Tidak ada “benar” solusi untuk masalah-masalah tertentu yang dapat diterapkan untuk semua orang. Setiap individu adalah unik dan begitu juga, adalah setiap solusi.
The Therapeutic Proses
Bertolino dan O’Hanlon (2002) menekankan pentingnya menciptakan hubungan terapeutik kolaboratif dan melakukannya untuk keberhasilan terapi. Mengakui bahwa terapis memiliki keahlian dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan mereka sendiri. Singkatnya, collaborative dan hubungan kerjasama cenderung lebih efektif daripada hubungan dalam terapi.
Walter dan Peller (1992) Empat langkah yang menjadi ciri gambaran proses SFBT:
(1) Mencari tahu apa yang diinginkan dan yang tidak mereka inginkan klien.
(2) Jangan mencari patologi, dan tidak berusaha untuk mengurangi memberikan dengan label diagnostik bagi klien. Sebaliknya, carilah apa yang klien lakukan dan mendorong mereka agar terarah.
(3) Bereksperimen dengan melakukan sesuatu yang berbeda.
(4) Simpan terapi singkat dengan mendekati setiap sesi seolah-olah itu adalah yang sesi terakhir.
Bertolino dan O’Hanlon (2002) menekankan pentingnya menciptakan hubungan terapeutik kolaboratif dan melakukannya untuk keberhasilan terapi. Mengakui bahwa terapis memiliki keahlian dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan mereka sendiri. Singkatnya, collaborative dan hubungan kerjasama cenderung lebih efektif daripada hubungan dalam terapi.
Walter dan Peller (1992) Empat langkah yang menjadi ciri gambaran proses SFBT:
(1) Mencari tahu apa yang diinginkan dan yang tidak mereka inginkan klien.
(2) Jangan mencari patologi, dan tidak berusaha untuk mengurangi memberikan dengan label diagnostik bagi klien. Sebaliknya, carilah apa yang klien lakukan dan mendorong mereka agar terarah.
(3) Bereksperimen dengan melakukan sesuatu yang berbeda.
(4) Simpan terapi singkat dengan mendekati setiap sesi seolah-olah itu adalah yang sesi terakhir.
Kerangka pendekatan
tradisional untuk memecahkan masalah (De Jong & Berg, 2002):
(1) Klien diberi kesempatan untuk menjelaskan masalah-masalah mereka, terapis mendengarkan dengan penuh hormat dan klien hati-hati menjawab pertanyaan terapis, “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi anda?”
(2) Terapis bekerja dengan klien dalam mengembangkan tujuan-tujuan sesegera mungkin. “Apa yang berbeda dalam hidup Anda ketika masalah anda terpecahkan?”
(3) Terapis meminta klien tentang masalah-masalah yang kurang parah. Klien dibantu dengan penekanan khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat suatu peristiwa terjadi.
(4) Pada setiap akhir percakapan solusi, terapis menawarkan umpan balik, memberikan dorongan, dan menunjukkan apa yang bisa diamati klien sebelum sesi berikutnya untuk memecahkan masalah mereka.
(5) Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat dalam mencapai solusi dengan menggunakan skala penilaian.
(1) Klien diberi kesempatan untuk menjelaskan masalah-masalah mereka, terapis mendengarkan dengan penuh hormat dan klien hati-hati menjawab pertanyaan terapis, “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi anda?”
(2) Terapis bekerja dengan klien dalam mengembangkan tujuan-tujuan sesegera mungkin. “Apa yang berbeda dalam hidup Anda ketika masalah anda terpecahkan?”
(3) Terapis meminta klien tentang masalah-masalah yang kurang parah. Klien dibantu dengan penekanan khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat suatu peristiwa terjadi.
(4) Pada setiap akhir percakapan solusi, terapis menawarkan umpan balik, memberikan dorongan, dan menunjukkan apa yang bisa diamati klien sebelum sesi berikutnya untuk memecahkan masalah mereka.
(5) Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat dalam mencapai solusi dengan menggunakan skala penilaian.
TUJUAN THERAPEUTIC SFBT;
Mencerminkan gagasan dasar tentang perubahan, interaksi, dan mencapai tujuan.
Tujuan SFBT (O’Hanlom & Weiner Davis, 1989):
(1) Mengubah situasi atau kerangka acuan; mengubah perbuatan situasi yang problematis, dan menekan kekuatan klien dan sumber daya.
(2) Membantu klien mengadopsi sebuah sikap dan mengukur pergeseran dari membicarakan masalah-masalah untuk berbicara tentang solusi.
(3) Mendorong klien untuk terlibat dalam perubahan atau berbicara solusi daripada masalah dengan asumsi bahwa apa yang kita bicarakan kebanyakan akan berhasil.
Tujuan SFBT (O’Hanlom & Weiner Davis, 1989):
(1) Mengubah situasi atau kerangka acuan; mengubah perbuatan situasi yang problematis, dan menekan kekuatan klien dan sumber daya.
(2) Membantu klien mengadopsi sebuah sikap dan mengukur pergeseran dari membicarakan masalah-masalah untuk berbicara tentang solusi.
(3) Mendorong klien untuk terlibat dalam perubahan atau berbicara solusi daripada masalah dengan asumsi bahwa apa yang kita bicarakan kebanyakan akan berhasil.
Walter dan Peller (1992)
menekankan pentingnya membantu klien untuk menciptakan tujuan:
(1) positif dalam bahasa klien,
(2) berorientasi proses atau tindakan,
(3) secara terstruktur di sini dan sekarang,
(4) dapat dicapai, konkret dan spesifik, dan
(5) dikontrol oleh klien.
Klien harus terlebih dahulu merasa bahwa sumber keprihatinan mereka didengar dan dipahami sebelum mereka dapat merumuskan tujuan yang bermakna.
(1) positif dalam bahasa klien,
(2) berorientasi proses atau tindakan,
(3) secara terstruktur di sini dan sekarang,
(4) dapat dicapai, konkret dan spesifik, dan
(5) dikontrol oleh klien.
Klien harus terlebih dahulu merasa bahwa sumber keprihatinan mereka didengar dan dipahami sebelum mereka dapat merumuskan tujuan yang bermakna.
FUNGSI DAN PERAN TERAPIS;
Klien sepenuhnya mengambil bagian dalam proses terapeutik jika mereka
berkeinginan untuk menentukan arah dan tujuan percakapan (Walter & Peller,
1996).
Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan sekarang dan perubahan masa depan (Bertolipo & O’Hanlon, 2002).
Terapis menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi, dan co-penulis cerita-cerita mereka yang berkembang (Walter & Peller, 1996).
Tugas utama terapeutik terdiri dari membantu klien membayangkan bagaimana mereka akan menyukai hal-hal yang berbeda dan apa yang diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan ini (Gingericli & Eisengart, 2000).
Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan sekarang dan perubahan masa depan (Bertolipo & O’Hanlon, 2002).
Terapis menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi, dan co-penulis cerita-cerita mereka yang berkembang (Walter & Peller, 1996).
Tugas utama terapeutik terdiri dari membantu klien membayangkan bagaimana mereka akan menyukai hal-hal yang berbeda dan apa yang diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan ini (Gingericli & Eisengart, 2000).
Beberapa pertanyaan Walter
dan Peller (2000) yang berguna adalah;
Ø “Apa yang Anda inginkan datang ke sini?”
Ø “Bagaimana hal itu membuat perbedaan bagi Anda?” dan
Ø “Apa yang mungkin beberapa tanda-tanda kepada Anda bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?”
Ø “Apa yang Anda inginkan datang ke sini?”
Ø “Bagaimana hal itu membuat perbedaan bagi Anda?” dan
Ø “Apa yang mungkin beberapa tanda-tanda kepada Anda bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?”
HUBUNGAN THERAPEUTIC; De
Shazer (1988) menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat dikembangkan antara
terapis dan klien untuk membangun SFBT:
Pelanggan: klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi masalah dan solusi untuk bekerja ke arah. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuan nya, usaha pribadi akan diperlukan.
Pengadu: klien menggambarkan masalah tetapi tidak mampu berperan dalam membangun sebuah solusi. Dalam situasi ini, mantan klien umumnya respects pada terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien masalah atribut.
Pengunjung: klien yang datang ke terapi karena orang lain (pasangan, orangtua, guru; percobaan petugas) berpikir bahwa klien memiliki masalah.
Pelanggan: klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi masalah dan solusi untuk bekerja ke arah. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuan nya, usaha pribadi akan diperlukan.
Pengadu: klien menggambarkan masalah tetapi tidak mampu berperan dalam membangun sebuah solusi. Dalam situasi ini, mantan klien umumnya respects pada terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien masalah atribut.
Pengunjung: klien yang datang ke terapi karena orang lain (pasangan, orangtua, guru; percobaan petugas) berpikir bahwa klien memiliki masalah.
Aplikasi: Therapeutic Teknik
dan Prosedur
CUKUP GANTI PRETHERAPY; Selama awal sesi terapi, biasanya berfokus pada solusi, terapis bertanya, “Apa yang telah Anda lakukan sejak berjanji membuat perbedaan dalam masalah Anda?” Kami Shaze, (1985, 1988). Dengan bertanya tentang perubahan tersebut, terapis dapat menimbulkan evek dan memperkuat apa yang telah dilakukan klien dengan cara membuat perubahan yang positif. Perubahan-perubahan ini tidak dapat dikaitkan dengan proses terapi, sehingga mereka cenderung bertanya untuk mendorong klien, terapis kurang mengandalkan mereka atau pada sumber daya mereka sendiri untuk mencapai tujuan perawatannya. (Bertolino & O’Hanlon, 2002; McKeel, 1996).
CUKUP GANTI PRETHERAPY; Selama awal sesi terapi, biasanya berfokus pada solusi, terapis bertanya, “Apa yang telah Anda lakukan sejak berjanji membuat perbedaan dalam masalah Anda?” Kami Shaze, (1985, 1988). Dengan bertanya tentang perubahan tersebut, terapis dapat menimbulkan evek dan memperkuat apa yang telah dilakukan klien dengan cara membuat perubahan yang positif. Perubahan-perubahan ini tidak dapat dikaitkan dengan proses terapi, sehingga mereka cenderung bertanya untuk mendorong klien, terapis kurang mengandalkan mereka atau pada sumber daya mereka sendiri untuk mencapai tujuan perawatannya. (Bertolino & O’Hanlon, 2002; McKeel, 1996).
PENGECUALIAN PERTANYAAN SFBT;
didasarkan pada pemikiran bahwa ada saatnya ketika klien mengidentifikasi
masalah mengatakan mereka tidak bermasalah. Kali ini disebut: pengecualian dan
perbedaan (Bateson, 1972) Solusi yang berfokus pada pertanyaan, maka terapis
meminta pengecualian secara langsung ketika masalah itu tidak ada. Pengecualian
pengalaman terakhir dalam hidup klien ketika masuk akal untuk terjadinya
masalah yang diharapkan, tapi entah mengapa hal itu tidak (De Shazer, 1985).
Eksplorasi ini mengingatkan klien bahwa masalah-masalah yang tidak semua-kuat dan belum ada selamanya, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi bidang positing solusi yang mungkin. Terapis meminta klien apa yang harus terjadi untuk pengecualian ini terjadi lebih sering. solusi foccussed ini disebut perubahan-talk (Andrews & Clark, 1996).
Eksplorasi ini mengingatkan klien bahwa masalah-masalah yang tidak semua-kuat dan belum ada selamanya, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi bidang positing solusi yang mungkin. Terapis meminta klien apa yang harus terjadi untuk pengecualian ini terjadi lebih sering. solusi foccussed ini disebut perubahan-talk (Andrews & Clark, 1996).
TERAPI PERTANYAAN KEAJAIBAN;
De Shazer (1985, 1988) Para terapis bertanya, “sebuah keajaiban terjadi dan
masalah Anda dipecahkan dalam semalam, bagaimana kau tahu itu dipecahkan, dan
apa yang berbeda?” Kemudian klien didorong untuk menetapkan “apa yang akan
berbeda” terlepas dari masalah-masalah. Jika klien ingin merasa lebih percaya
diri dan aman, terapis akan berkata: “Biarkan diri Anda membayangkan bahwa Anda
meninggalkan kantor hari ini dan bahwa Anda berada di jalur yang tepat untuk
bertindak lebih percaya diri dan aman. Apa yang akan Anda lakukan?
De Jong dan Berg (2002) mengidentifikasi. Sejumlah alasan mukjizat bertanya merupakan teknik yang berguna. Meminta klien untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan keajaiban di masa depan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan pada klien untuk dapat mempertimbangkan jenis kehidupan yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan masalah; di masa lalu dan di masa depan.
De Jong dan Berg (2002) mengidentifikasi. Sejumlah alasan mukjizat bertanya merupakan teknik yang berguna. Meminta klien untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan keajaiban di masa depan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan pada klien untuk dapat mempertimbangkan jenis kehidupan yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan masalah; di masa lalu dan di masa depan.
SOLUSI PERTANYAAN SCALING;
Sebagai contoh, seorang wanita pelaporan perasaan panik atau cemas mungkin akan
diminta: “Pada skala nol sampai 10, dengan nol yang bagaimana yang Anda rasakan
ketika Anda pertama kali datang ke terapi dan 10 adalah bagaimana Anda
merasakan setelah mukjizat terjadi dan Masalah Anda adalah pergi/hilang,
bagaimana Anda menilai kecemasan Anda sekarang? “Jika klien pindah dari nol ke
satu, dia telah membaik. Bagaimana dia melakukan? Apa yang dia perlu lakukan
untuk memindahkan nomor lain atas skala?
Pertanyaan scaling memungkinkan klien untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah-langkah yang akan menyebabkan perubahan yang mereka inginkan. Teknik ini dapat diterapkan secara kreatif untuk klien tekan ‘persepsi tentang berbagai pengalaman, termasuk “harga diri, presession perubahan, kepercayaan diri, investasi dalam perubahan, kemauan untuk bekerja keras untuk mewujudkan perubahan yang diinginkan, prioritas masalah yang akan dipecahkan, persepsi tentang harapan, dan evaluasi kemajuan “(Berg, 1994, hal. 102-103).
Pertanyaan scaling memungkinkan klien untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah-langkah yang akan menyebabkan perubahan yang mereka inginkan. Teknik ini dapat diterapkan secara kreatif untuk klien tekan ‘persepsi tentang berbagai pengalaman, termasuk “harga diri, presession perubahan, kepercayaan diri, investasi dalam perubahan, kemauan untuk bekerja keras untuk mewujudkan perubahan yang diinginkan, prioritas masalah yang akan dipecahkan, persepsi tentang harapan, dan evaluasi kemajuan “(Berg, 1994, hal. 102-103).
TUGAS FORMULA SESI PERTAMA;
Formula sesi pertama tugas (FFST) adalah suatu bentuk pekerjaan rumah terapis
akan memberikan klien untuk menyelesaikan antara sesi pertama dan sesi kedua.
Sesi pertama terapis berkata: “saya ingin Anda mengamati, sehingga Anda dapat menjelaskan kepada saya pada waktu berikutnya, apa yang terjadi pada Anda? (keluarga, kehidupan, pernikahan, hubungan) yang telah terjadi “(De Shazer, 1985, hal 137).
Pada sesi kedua, klien dapat ditanyakan apa yang mereka amati dan apa yang mereka inginkan terjadi di masa depan. Menurut De Shazer, intervensi ini cenderung untuk meningkatkan klien ‘optimisme dan harapan tentang situasi mereka.
Sesi pertama terapis berkata: “saya ingin Anda mengamati, sehingga Anda dapat menjelaskan kepada saya pada waktu berikutnya, apa yang terjadi pada Anda? (keluarga, kehidupan, pernikahan, hubungan) yang telah terjadi “(De Shazer, 1985, hal 137).
Pada sesi kedua, klien dapat ditanyakan apa yang mereka amati dan apa yang mereka inginkan terjadi di masa depan. Menurut De Shazer, intervensi ini cenderung untuk meningkatkan klien ‘optimisme dan harapan tentang situasi mereka.
FEEDBACK TERAPIS UNTUK KLIEN;
Praktisi solusi yang berfokus pada umumnya istirahat dari 5 sampai I0 menit
menjelang akhir setiap sesi untuk menulis sejumlah pesan untuk klien. Selama
jeda ini terapis merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada klien
setelah istirahat.
De. Tong dan Berg (2002) menggambarkan tiga bagian dasar dengan struktur ringkasan umpan balik: pujian, jembatan, dan menyarankan suatu tugas.
Pertama, pujian yang tulus dari apa yang telah dilakukan klien yang mengarah ke solusi yang efektif, yang merupakan dorongan, menciptakan harapan dan menyampaikan kepada klien bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan menggambar pada kekuatan dan keberhasilan mereka.
Kedua, sebuah link jembatan awal yang disarankan pujian untuk tugas-tugas yang akan diberikan. Jembatan menyediakan alasan bagi saran.
Ketiga umpan balik terdiri dari tugas menyarankan kepada klien, yang dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah.
Tugas observasi meminta klien untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri membantu klien perhatikan perbedaan ketika segala sesuatu lebih baik, terutama apa yang berbeda dengan cara berpikir mereka, merasa, atau berperilaku.
Mengakhiri solusi pertama yang berfokus pada wawancara, terapis harus ingat akan penghentian pebekerjaan. Setelah klien dapat membangun beberapa faktor solusi, hubungan terapeutik dapat dihentikan. Karena terapi model ini adalah singkat, sekarang berpusat, dan alamat keluhan spesifik, sangat mungkin bahwa klien akan mengalami kekhawatiran perkembangan di lain waktu. Klien dapat meminta tambahan sesion kapan saja mereka perlu.
De. Tong dan Berg (2002) menggambarkan tiga bagian dasar dengan struktur ringkasan umpan balik: pujian, jembatan, dan menyarankan suatu tugas.
Pertama, pujian yang tulus dari apa yang telah dilakukan klien yang mengarah ke solusi yang efektif, yang merupakan dorongan, menciptakan harapan dan menyampaikan kepada klien bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan menggambar pada kekuatan dan keberhasilan mereka.
Kedua, sebuah link jembatan awal yang disarankan pujian untuk tugas-tugas yang akan diberikan. Jembatan menyediakan alasan bagi saran.
Ketiga umpan balik terdiri dari tugas menyarankan kepada klien, yang dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah.
Tugas observasi meminta klien untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri membantu klien perhatikan perbedaan ketika segala sesuatu lebih baik, terutama apa yang berbeda dengan cara berpikir mereka, merasa, atau berperilaku.
Mengakhiri solusi pertama yang berfokus pada wawancara, terapis harus ingat akan penghentian pebekerjaan. Setelah klien dapat membangun beberapa faktor solusi, hubungan terapeutik dapat dihentikan. Karena terapi model ini adalah singkat, sekarang berpusat, dan alamat keluhan spesifik, sangat mungkin bahwa klien akan mengalami kekhawatiran perkembangan di lain waktu. Klien dapat meminta tambahan sesion kapan saja mereka perlu.
NARRATIVE THERAPY
Pendahuluan
Dari semua constructionists sosial, Michael White dan David Epston (1990) yang paling dikenal untuk penggunaan terapi naratif. Menurut White (1992), individu membangun makna kehidupan dalam kisah interpretatif, yang kemudian diperlakukan sebagai “kebenaran.” White yakin wacana berfungsi dominan untuk mengabadikan sudut pandang, proses, dan kisah-kisah yang melayani mereka yang mendapatkan manfaat dari budaya, tetapi yang dapat bekerja melawan agen dan kesempatan hidup individu.
Postmodern mengadopsi narasi, pandangan konstruksionis sosial menyoroti bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan “kebenaran” yang dinegosiasikan dalam keluarga dan sosial lainnya dan konteks budaya (Freedman & Combs, 1996). Terapi ini, dalam bagian, sebuah badan reestablishment pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah-kisah dominan yang lebih besar.
Pendahuluan
Dari semua constructionists sosial, Michael White dan David Epston (1990) yang paling dikenal untuk penggunaan terapi naratif. Menurut White (1992), individu membangun makna kehidupan dalam kisah interpretatif, yang kemudian diperlakukan sebagai “kebenaran.” White yakin wacana berfungsi dominan untuk mengabadikan sudut pandang, proses, dan kisah-kisah yang melayani mereka yang mendapatkan manfaat dari budaya, tetapi yang dapat bekerja melawan agen dan kesempatan hidup individu.
Postmodern mengadopsi narasi, pandangan konstruksionis sosial menyoroti bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan “kebenaran” yang dinegosiasikan dalam keluarga dan sosial lainnya dan konteks budaya (Freedman & Combs, 1996). Terapi ini, dalam bagian, sebuah badan reestablishment pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah-kisah dominan yang lebih besar.
FOKUS THERAPY NARASI;
Mengadopsi pendekatan narasi yang melibatkan perubahan fokus dari teori
tradisional. Terapis dianjurkan untuk membangun pendekatan kolaboratif dengan
minat khusus pada klien mendengarkan ‘cerita-cerita; untuk mencari klien dalam
kehidupan akal mereka (misalnya, tinggal alternatif cerita); menggunakan
pertanyaan sebagai cara untuk melibatkan klien dan memfasilitasi mereka
eksplorasi; untuk menghindari diagnosis dan pelabelan klien atau berdasarkan
deskripsi masalah; untuk membantu klien dalam pemetaan masalah pengaruh atau
mereka mempunyai hidup, dan untuk membantu klien dalam memisahkan diri dari
kisah-kisah dominan mereka diinternalisasi untuk menciptakan kisah kehidupan
alternatif (Freedman & Combs, 1996).
PERAN STORIES; Cerita
sebenarnya membentuk realitas dalam membangun dan membentuk apa yang kita
lihat, rasakan, dan lakukan. Cerita tumbuh dari percakapan dalam konteks sosial
dan budaya. Tetapi klien tidak mempunyai peran pathologized, tanpa harapan dan
menyedihkan, melainkan, muncul sebagai pemenang yang menghitung ulang. Cerita
tidak hanya mengubah orang yang mengatakan cerita, tetapi juga mengubah terapis
menjadi bagian dari proses (Monk, 1997).
MENDENGARKAN DENGAN PIKIRAN
TERBUKA; Lindsley (1994) menekankan bahwa terapis dapat mendorong klien mereka
untuk mempertimbangkan kembali penilaian absolut dengan bergerak ke arah
melihat kedua “baik” dan “buruk” unsur-unsur dalam situasi.
Terapis Narrative melakukan upaya menyakitkan klien untuk mengubah kepercayaan, nilai, dan interpretasi tanpa memaksakan sistem nilai mereka dan interpretasi. Terapis narasi membawa kepada usaha terapi sikap tertentu seperti optimisme, hormat keingintahuan dan ketekunan, dan menghargai pengetahuan klien, mereka dapat mendengarkan masalah-kisah kejenuhan klien tanpa terjebak.
Selama percakapan narasi, perhatian diberikan untuk menghindari total bahasa, yang mengurangi kompleksitas individu dengan tetap merangkul semua esensinya. Therapist mulai memisahkan seseorang dari masalah dalam pikiran mereka sebagai mereka mendengarkan dan respond (Winslade & Monk, 1999).
Perspektif narasi berfokus pada kemampuan manusia untuk berpikir kreatif dan imajinatif. Narasi praktisi tidak pernah menganggap bahwa ia tahu lebih banyak tentang kehidupan klien daripada yang mereka lakukan. Klien adalah penafsir utama pengalaman mereka sendiri. Dengan demikian, proses perubahan dapat difasilitasi, tetapi tidak diarahkan oleh terapis.
Terapis Narrative melakukan upaya menyakitkan klien untuk mengubah kepercayaan, nilai, dan interpretasi tanpa memaksakan sistem nilai mereka dan interpretasi. Terapis narasi membawa kepada usaha terapi sikap tertentu seperti optimisme, hormat keingintahuan dan ketekunan, dan menghargai pengetahuan klien, mereka dapat mendengarkan masalah-kisah kejenuhan klien tanpa terjebak.
Selama percakapan narasi, perhatian diberikan untuk menghindari total bahasa, yang mengurangi kompleksitas individu dengan tetap merangkul semua esensinya. Therapist mulai memisahkan seseorang dari masalah dalam pikiran mereka sebagai mereka mendengarkan dan respond (Winslade & Monk, 1999).
Perspektif narasi berfokus pada kemampuan manusia untuk berpikir kreatif dan imajinatif. Narasi praktisi tidak pernah menganggap bahwa ia tahu lebih banyak tentang kehidupan klien daripada yang mereka lakukan. Klien adalah penafsir utama pengalaman mereka sendiri. Dengan demikian, proses perubahan dapat difasilitasi, tetapi tidak diarahkan oleh terapis.
The Therapeutic Proses;
Langkah-langkah dalam proses terapeutik narasi menggambarkan struktur
pendekatan narasi (O’Hanlon, 1994, hlm. 25-26):
Berkolaborasi dengan klien untuk saling menerima masalah, mewujudkan masalah dan niat menindas atribut dan taktik.
Selidiki bagaimana masalah telah mengganggu, mendominasi, atau klien berkecil hati.
Mintalah klien untuk melihat ceritanya dari perspective yang berbeda dengan menawarkan makna alternatif.
Temukan klien ketika tidak didominasi atau discour berusaha mencari masalah pengecualian.
Carilah bukti-bukti sejarah untuk mendukung pandangan baru klien sebagai cukup berkemampuan untuk berdiri, untuk kalah, atau melarikan diri dari dominasi atau penindasan dari masalah. (Pada tahap ini identitas dan kisah kehidupan anak mulai ditulis ulang)
Mintalah klien untuk berspekulasi mengenai masa depan macam seperti apa yang diinginkan. Klien bebas dari masalah kejenuhan masa lalu, ia dapat membayangkan dan merencanakan masa depan yang tidak bermasalah.
Cari atau membuat penonton untuk memahami dan mendukung cerita baru.
Berkolaborasi dengan klien untuk saling menerima masalah, mewujudkan masalah dan niat menindas atribut dan taktik.
Selidiki bagaimana masalah telah mengganggu, mendominasi, atau klien berkecil hati.
Mintalah klien untuk melihat ceritanya dari perspective yang berbeda dengan menawarkan makna alternatif.
Temukan klien ketika tidak didominasi atau discour berusaha mencari masalah pengecualian.
Carilah bukti-bukti sejarah untuk mendukung pandangan baru klien sebagai cukup berkemampuan untuk berdiri, untuk kalah, atau melarikan diri dari dominasi atau penindasan dari masalah. (Pada tahap ini identitas dan kisah kehidupan anak mulai ditulis ulang)
Mintalah klien untuk berspekulasi mengenai masa depan macam seperti apa yang diinginkan. Klien bebas dari masalah kejenuhan masa lalu, ia dapat membayangkan dan merencanakan masa depan yang tidak bermasalah.
Cari atau membuat penonton untuk memahami dan mendukung cerita baru.
TUJUAN THERAPY; Tujuan umum
terapi naratif adalah mengundang orang untuk menulis pengalaman mereka dalam
bahasa yang baru dan segar. Dalam melakukan, mereka membuka pandangan baru yang
memungkinkan. (Freedman & Combs, 1996). Narasi terapi hampir selalu
mencakup kesadaran akan dampak dari berbagai aspek dari kebudayaan yang dominan
pada kehidupan manusia. Narasi praktisi berusaha untuk memperluas perspektif
dan fokus dan memfasilitasi penciptaan atau pilihan baru yang unik bagi
orang-orang yang melihat mereka.
FUNGSI DAN PERAN TERAPIS;
Fasilitator terapis Naratif yang aktif memiliki konsep perawatan, bunga, rasa
hormat, ingin tahu, keterbukaan, empati, bijaksana, dan bahkan mempesona
dipandang sebagai suatu keharusan relasional.
Tugas utama terapis adalah membantu klien membangun alur cerita dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dari klien dan, berdasarkan pada jawaban, menghasilkan pertanyaan lebih lanjut. Terapis narasi mengadopsi sebuah sikap yang ditandai dengan hormat curiosity dan bekerja dengan klien untuk menjelaskan kedua dampak dari masalah pada mereka dan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi efek dari masalah (Winslade & Monk, 1999).
White dan Epston (1990) menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk memisahkan masalah dari orang yang terkena masalah: Pergeseran dalam bahasa memulai dekonstruksi dari cerita asli di mana orang-orang dan masalah menyatu, sekarang masalahnya adalah objektifikasi eksternal mereka.
Seperti solusi yang berfokus pada terapis, terapis narasi menganggap klien adalah ahli ketika conies untuk apa yang dia inginkan dalam hidup. Para terapis narratif cenderung menghindari penggunaan bahasa yang diagnosis, menilai, dan intervensi.
Tugas utama terapis adalah membantu klien membangun alur cerita dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dari klien dan, berdasarkan pada jawaban, menghasilkan pertanyaan lebih lanjut. Terapis narasi mengadopsi sebuah sikap yang ditandai dengan hormat curiosity dan bekerja dengan klien untuk menjelaskan kedua dampak dari masalah pada mereka dan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi efek dari masalah (Winslade & Monk, 1999).
White dan Epston (1990) menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk memisahkan masalah dari orang yang terkena masalah: Pergeseran dalam bahasa memulai dekonstruksi dari cerita asli di mana orang-orang dan masalah menyatu, sekarang masalahnya adalah objektifikasi eksternal mereka.
Seperti solusi yang berfokus pada terapis, terapis narasi menganggap klien adalah ahli ketika conies untuk apa yang dia inginkan dalam hidup. Para terapis narratif cenderung menghindari penggunaan bahasa yang diagnosis, menilai, dan intervensi.
HUBUNGAN THERAPEUTIC; Jika
hubungan benar-benar kolaboratif, terapis harus menyadari bagaimana kekuasaan
memanifestasikan dirinya dalam praktek profesionalnya. Ini tidak berarti bahwa
terapis tidak memiliki otoritas sebagai seorang profesional.
Winslade, Crocket, dan Monk (1997) menjelaskan kerjasama ini sebagai co-authoring atau berbagi otoritas. Klien berfungsi sebagai penulis ketika mereka memiliki otoritas untuk berbicara atas nama mereka sendiri. Dalam pendekatan narasi, terapis digantikan oleh klien.
Terapis memasuki dialog ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dar klien. Masa lalu adalah sejarah, tetapi kadang-kadang memberikan landasan untuk memahami dan menemukan perbedaan-perbedaan atau hasil yang unik akan membuat perbedaan. Ini adalah masa kini dan masa depan, Namun, dalam kehidupan yang akan dijalani oleh terapis narative persediaan optimisme dan kadang-kadang sebuah proses, namun Klien menghasilkan apa yang mungkin dan memberikan kontribusi actualizes gerakan itu.
Winslade, Crocket, dan Monk (1997) menjelaskan kerjasama ini sebagai co-authoring atau berbagi otoritas. Klien berfungsi sebagai penulis ketika mereka memiliki otoritas untuk berbicara atas nama mereka sendiri. Dalam pendekatan narasi, terapis digantikan oleh klien.
Terapis memasuki dialog ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dar klien. Masa lalu adalah sejarah, tetapi kadang-kadang memberikan landasan untuk memahami dan menemukan perbedaan-perbedaan atau hasil yang unik akan membuat perbedaan. Ini adalah masa kini dan masa depan, Namun, dalam kehidupan yang akan dijalani oleh terapis narative persediaan optimisme dan kadang-kadang sebuah proses, namun Klien menghasilkan apa yang mungkin dan memberikan kontribusi actualizes gerakan itu.
Aplikasi: Therapeutic Teknik
dan Prosedur
Penerapan terapi naratif lebih tergantung pada Therapists; sikap atau perspektif daripada teknik. Sebuah pendekatan konseling narasi lebih dari penerapan keterampilan; itu didasarkan pada karakteristik pribadi terapis yang menciptakan dan mendorong klien untuk melihat kisah mereka dari perspektif yang berbeda. Pendekatan ini juga merupakan ekspresi sikap yang etis, yang didasarkan pada kerangka filosofis. Kerangka konseptual ini diterapkan untuk membantu klien dalam menemukan makna-makna baru dan dalam kehidupan mereka (Winslade & Monk, 1999).
Penerapan terapi naratif lebih tergantung pada Therapists; sikap atau perspektif daripada teknik. Sebuah pendekatan konseling narasi lebih dari penerapan keterampilan; itu didasarkan pada karakteristik pribadi terapis yang menciptakan dan mendorong klien untuk melihat kisah mereka dari perspektif yang berbeda. Pendekatan ini juga merupakan ekspresi sikap yang etis, yang didasarkan pada kerangka filosofis. Kerangka konseptual ini diterapkan untuk membantu klien dalam menemukan makna-makna baru dan dalam kehidupan mereka (Winslade & Monk, 1999).
Pertanyaan dan
Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya; Narasi Pertanyaan terapis bertanya mungkin
tampak tertanam dalam percakapan yang unik, bagian dari sebuah dialog tentang
dialog sebelumnya, sebuah peristiwa penemuan unik, atau budaya dominan
eksplorasi proses dan keharusan. Apa pun tujuan, pertanyaan-pertanyaan yang
sering diajukan, atau relasional, dan mereka berusaha untuk memberdayakan klien
dalam cara-cara baru. Gregory Bateson’s (1972) ungkapan pertanyaan-pertanyaan
dalam mencari perbedaan dapat membuat perbedaan.
Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menutupi atau membangun pengalaman klien sehingga terapis lebih terarah untuk mengejar. Terapis mengajukan pertanyaan dari posisi, tidak-tahu yang berarti bahwa mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka pikir mereka sudah tahu jawaban. Monk (1997) menggambarkan sikap ini sebagai berikut:
Dia menunjukkan kepada klien bahwa menjadi seorang konselor tidak menyiratkan akses istimewa terhadap kebenaran. Konselor secara konsisten dalam peran mencari berdasarkan pengalaman klien. Terapis menggunakan pendekatan narasi ingin mengambil terpisah, atau mendekonstruksi, wacana yang mendukung keberadaan masalah. Terapis tertarik untuk mengetahui bagaimana masalah menjadi jelas, dan bagaimana mereka mempengaruhi klien ‘dilihat dari diri mereka sendiri (Monk, 1997).
Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menutupi atau membangun pengalaman klien sehingga terapis lebih terarah untuk mengejar. Terapis mengajukan pertanyaan dari posisi, tidak-tahu yang berarti bahwa mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka pikir mereka sudah tahu jawaban. Monk (1997) menggambarkan sikap ini sebagai berikut:
Dia menunjukkan kepada klien bahwa menjadi seorang konselor tidak menyiratkan akses istimewa terhadap kebenaran. Konselor secara konsisten dalam peran mencari berdasarkan pengalaman klien. Terapis menggunakan pendekatan narasi ingin mengambil terpisah, atau mendekonstruksi, wacana yang mendukung keberadaan masalah. Terapis tertarik untuk mengetahui bagaimana masalah menjadi jelas, dan bagaimana mereka mempengaruhi klien ‘dilihat dari diri mereka sendiri (Monk, 1997).
EKSTERNALISASI DAN
DEKONSTRUKSI; Terapis Narasi membantu klien mendekonstruksi cerita masalah yang
diberikan asumsi tentang sebuah peristiwa, kemudian membuka kemungkinan
alternatif (Bertolino & O’Hanlon, 2002; Winslade & Monk, 1999).
Eksternalisasi merupakan salah satu kekuatan proses dekonstruksi narasi dan
memisahkan orang dari mengidentifikasi masalah dan kadang-kadang memberinya nama.
Metode yang digunakan untuk memisahkan orang dari masalah ini disebut sebagai externalizing percakapan. Metode ini sangat berguna saat diagnosa dan label yang belum divalidasi atau pemberdayaan dari proses perubahan (Bertolino & O’Hanlon, 2002).
Dua structuring yang merupakan percakapan adalah (1) untuk memetakan pengaruh masalah dalam kehidupan anak, atau (2) untuk memetakan pengaruh kehidupan seseorang pada pengembangan masalah (McKenzie & Monk, 1997). Pengaruh pemetaan masalah menghasilkan banyak informasi yang berguna dan sering mengakibatkan orang-orang merasa malu dan menyalahkan. Orang merasa didengarkan dan dipahami ketika pengaruh masalah dieksplorasi secara sistematis. Ketika pemetaan ini dilakukan dengan hati-hati, untuk meletakkan dasar penulisan alur cerita baru bagi klien.
Pertanyaannya adalah, “Kapan masalah ini pertama kali muncul dalam hidup Anda?” `Tugas terapis adalah membantu klien dalam menelusuri masalah hingga saat ini. Apakah berarti bagi Anda?” Pertanyaan ini dapat memotivasi klien untuk bergabung dengan Therapist dalam memerangi dampak masalah.
Efek pemetaan dari kehidupan seseorang, klien menyadari bahwa masalahnya tidak didominasi dalam kehidupannya. Ada beberapa hal ketika klien ditangani secara efektif dengan masalah. Pemetaan semacam ini membantu klien yang kecewa dengan melihat beberapa harapan untuk kehidupan yang berbeda. (White & Epston, 1990).
Metode yang digunakan untuk memisahkan orang dari masalah ini disebut sebagai externalizing percakapan. Metode ini sangat berguna saat diagnosa dan label yang belum divalidasi atau pemberdayaan dari proses perubahan (Bertolino & O’Hanlon, 2002).
Dua structuring yang merupakan percakapan adalah (1) untuk memetakan pengaruh masalah dalam kehidupan anak, atau (2) untuk memetakan pengaruh kehidupan seseorang pada pengembangan masalah (McKenzie & Monk, 1997). Pengaruh pemetaan masalah menghasilkan banyak informasi yang berguna dan sering mengakibatkan orang-orang merasa malu dan menyalahkan. Orang merasa didengarkan dan dipahami ketika pengaruh masalah dieksplorasi secara sistematis. Ketika pemetaan ini dilakukan dengan hati-hati, untuk meletakkan dasar penulisan alur cerita baru bagi klien.
Pertanyaannya adalah, “Kapan masalah ini pertama kali muncul dalam hidup Anda?” `Tugas terapis adalah membantu klien dalam menelusuri masalah hingga saat ini. Apakah berarti bagi Anda?” Pertanyaan ini dapat memotivasi klien untuk bergabung dengan Therapist dalam memerangi dampak masalah.
Efek pemetaan dari kehidupan seseorang, klien menyadari bahwa masalahnya tidak didominasi dalam kehidupannya. Ada beberapa hal ketika klien ditangani secara efektif dengan masalah. Pemetaan semacam ini membantu klien yang kecewa dengan melihat beberapa harapan untuk kehidupan yang berbeda. (White & Epston, 1990).
PENEMUAN HASIL YANG UNIK;
Dalam pendekatan narasitions eksternalisasi diikuti oleh pertanyaan mencari
hasil yang unik. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian yang integral dari
konteks percakapan narasi, dan setiap pertanyaan berhubungan dengan pertanyaan
sebelumnya (White, 1992).
Menunjukkan pengajuan pertanyaan, baik langsung maupun tidak langsung, lebih mengarah ke narasi:
Apa yang Anda pikir ini bercerita tentang apa yang telah Anda inginkan untuk hidup Anda dan tentang apa yang telah Anda usahakan dalam hidup Anda?
Bagaimana Menurut Anda ketika mengetahui pandangan saya telah mempengaruhi Anda sebagai pribadi?
Dari semua orang-orang yang telah mengenal Anda, yang paling surprised bahwa Anda telah mampu mengambil suatu langkah dalam menantang berbagai masalah dalam hidup Anda?
Tindakan apa yang membuat Anda berkomitmen untuk lebih mengetahui tentang siapa Anda?
Menunjukkan pengajuan pertanyaan, baik langsung maupun tidak langsung, lebih mengarah ke narasi:
Apa yang Anda pikir ini bercerita tentang apa yang telah Anda inginkan untuk hidup Anda dan tentang apa yang telah Anda usahakan dalam hidup Anda?
Bagaimana Menurut Anda ketika mengetahui pandangan saya telah mempengaruhi Anda sebagai pribadi?
Dari semua orang-orang yang telah mengenal Anda, yang paling surprised bahwa Anda telah mampu mengambil suatu langkah dalam menantang berbagai masalah dalam hidup Anda?
Tindakan apa yang membuat Anda berkomitmen untuk lebih mengetahui tentang siapa Anda?
Epston dan White (1992) Perkembangan
cerita Unik ke cerita solusi difasilitasi “pertanyaan sirkulasi”:
Sekarang Anda telah mencapai titik ini dalam kehidupan, siapa lagi yang harus tahu tentang hal itu?
Saya rasa ada mempunyai beberapa pandangan yang ketinggalan jaman. Apa ide Anda untuk merobah pandangan ini?
Jika orang lain mencari terapi untuk alasan yang sama dengan yang Anda lakukan, dapatkah saya berbagi dengan mereka sebagai salah satu penemuan penting yang telah Anda buat?
Sekarang Anda telah mencapai titik ini dalam kehidupan, siapa lagi yang harus tahu tentang hal itu?
Saya rasa ada mempunyai beberapa pandangan yang ketinggalan jaman. Apa ide Anda untuk merobah pandangan ini?
Jika orang lain mencari terapi untuk alasan yang sama dengan yang Anda lakukan, dapatkah saya berbagi dengan mereka sebagai salah satu penemuan penting yang telah Anda buat?
ALTERNATIF CERITA DAN
RE-AUTHORING; Membangun cerita baru berjalan bergandengan tangan dengan
dekonstruksi, dan terapis narasi bukan mendengarkan cerita-cerita baru.
Orang-orang dapat terus-menerus dan penulis aktif kembali kehidupan mereka, dan
narasi terapis mengundang klien ke penulis cerita alternatif melalui “hasil
yang unik ” (Freedman & Combs, 1996).
Terapis Narasi: “Apakah kamu pernah mampu melepaskan diri dari pengaruh masalah?” Terapis mendengarkan petunjuk kompetensi di tengah-tengah cerita dan kisah, membangun kompetensi di sekelilingnya.
Sebuah titik balik dalam wawancara narasi datang ketika klien membuat pilihan apakah akan terus hidup dengan masalah-kisah kejenuhan atau membuat cerita alternatif (Winslade & Monk, 1999). Dengan menggunakan pertanyaan, terapis bergerak ke fokus masa depan. Sebagai contoh: “Mengingat apa yang telah Anda pelajari tentang diri Anda, apa langkah berikutnya yang mungkin Anda ambil? Ketika Anda bertindak dari identitas pilihan Anda, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk berbuat lebih banyak?” pertanyaan seperti itu mendorong orang untuk merenungkan apa yang telah mereka capai saat ini dan apa langkah berikutnya.
Terapis Narasi: “Apakah kamu pernah mampu melepaskan diri dari pengaruh masalah?” Terapis mendengarkan petunjuk kompetensi di tengah-tengah cerita dan kisah, membangun kompetensi di sekelilingnya.
Sebuah titik balik dalam wawancara narasi datang ketika klien membuat pilihan apakah akan terus hidup dengan masalah-kisah kejenuhan atau membuat cerita alternatif (Winslade & Monk, 1999). Dengan menggunakan pertanyaan, terapis bergerak ke fokus masa depan. Sebagai contoh: “Mengingat apa yang telah Anda pelajari tentang diri Anda, apa langkah berikutnya yang mungkin Anda ambil? Ketika Anda bertindak dari identitas pilihan Anda, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk berbuat lebih banyak?” pertanyaan seperti itu mendorong orang untuk merenungkan apa yang telah mereka capai saat ini dan apa langkah berikutnya.
MENDOKUMENTASIKAN BUKTI
NARASI; Salah satu teknik untuk mengkonsolidasi keuntungan klien adalah dengan
menulis setiap sesi. Narasi ditulis oleh para terapis dan mencatat deskripsi
eksternalisasi masalah dan pengaruhnya terhadap klien serta kekuatan dan
kemampuan klien yang diidentifikasi dalam satu sesi. (McKenzie & Monk,
1997). Surat-surat dikirimkan kepada klien antara sesi (Andrews, Clark, &
Baird, 1997).
David Nylund (1994), menggambarkan kerangka kerja konseptual yang menemukan kegunaan dalam penataan surat kepada klien:
Bukti yang menghubungkan klien untuk sesi terapi sebelumnya.
Sebagai bukti secara ringkas pengaruh masalah tersebut pada klien.
Memikirkan pertanyaan terapis setelah sesi dapat diajukan kepada klien. (Pertanyaan mungkin berkaitan dengan alternatif cerita yang berkembang)
David Nylund (1994), menggambarkan kerangka kerja konseptual yang menemukan kegunaan dalam penataan surat kepada klien:
Bukti yang menghubungkan klien untuk sesi terapi sebelumnya.
Sebagai bukti secara ringkas pengaruh masalah tersebut pada klien.
Memikirkan pertanyaan terapis setelah sesi dapat diajukan kepada klien. (Pertanyaan mungkin berkaitan dengan alternatif cerita yang berkembang)
PENDEKATAN POSTMODERN DARI
PERSPEKTIF MULTICULTURAL
Kontribusi Multicultural Counseling
Konstruksionis sosial pendekatan terapi klien dengan menyediakan kerangka kerja untuk berpikir tentang pemikiran mereka dan untuk menentukan dampak stories terhadap apa yang mereka lakukan. Klien didorong untuk menjelajahi bagaimana realitas mereka sedang dibangun dan konsekuensi yang mengikuti dari konstruksi. Dalam kerangka nilai-nilai budaya mereka dan pandangan dunia, klien dapat mengeksplorasi kepercayaan mereka dan memberikan reinterpretations mereka sendiri tentang peristiwa kehidupan yang signifikan.
Para praktisi dengan perspektif konstruktivis sosial dapat memandu klien dengan menghormati nilai-nilai yang mendasarinya. Dimensi ini penting terutama dalam kasus-kasus di mana konselor dari latar belakang budaya yang berbeda dengan klien mereka.
Terapi naratif didasarkan konteks sosial budaya, yang membuat pendekatan ini sangat relevan untuk konseling dengan klien beragam budaya. Banyak pendekatan modern yang telah dibahas dalam buku ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah-masalah ada di dalam individu. Beberapa model tradisional ini mendefinisikan kesehatan mental dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya yang dominan. Sebaliknya, narasi terapis beroperasi pada premis bahwa masalah-masalah yang diidentifikasi dalam sosial, budaya, politik, dan konteks relasional daripada individua. Mereka sangat peduli dengan mempertimbangkan isu-isu gender, etnis, ras, orientasi seksual, dan kelas sosial dalam proses terapeutik.
Masalah terapis narasi berkonsentrasi pada cerita-cerita yang mendominasi dan menundukkan pribadi, sosial, dan budaya tingkat. Dari orientasi ini, para praktisi membongkar asumsi-asumsi budaya yang merupakan bagian dari problem klien.
Dalam diskusi tentang pengaruh multikultural klien, Bertolino dan O’Hanlon (2002) bahwa mereka tidak mendekati klien dengan pendapat yg terbentuk sebelumnya. Sebaliknya, mereka belajar dari klien tentang pengalaman mereka. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk lebih memahami multikultural klien:
Apa yang dapat Anda berbagi dengan saya tentang latar belakang yang memungkinkan saya untuk lebih memahami Anda?
Apa yang telah Anda siapkan menghadapi tantangan perkembangan budaya Anda?
Jika ada, tentang latar belakang yang sulit bagi Anda?
Bagaimana Anda dapat menarik kekuatan dan sumber daya dari budaya Anda?
Sumber daya apa yang dapat Anda ambil pada saat dibutuhkan?
Kontribusi Multicultural Counseling
Konstruksionis sosial pendekatan terapi klien dengan menyediakan kerangka kerja untuk berpikir tentang pemikiran mereka dan untuk menentukan dampak stories terhadap apa yang mereka lakukan. Klien didorong untuk menjelajahi bagaimana realitas mereka sedang dibangun dan konsekuensi yang mengikuti dari konstruksi. Dalam kerangka nilai-nilai budaya mereka dan pandangan dunia, klien dapat mengeksplorasi kepercayaan mereka dan memberikan reinterpretations mereka sendiri tentang peristiwa kehidupan yang signifikan.
Para praktisi dengan perspektif konstruktivis sosial dapat memandu klien dengan menghormati nilai-nilai yang mendasarinya. Dimensi ini penting terutama dalam kasus-kasus di mana konselor dari latar belakang budaya yang berbeda dengan klien mereka.
Terapi naratif didasarkan konteks sosial budaya, yang membuat pendekatan ini sangat relevan untuk konseling dengan klien beragam budaya. Banyak pendekatan modern yang telah dibahas dalam buku ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah-masalah ada di dalam individu. Beberapa model tradisional ini mendefinisikan kesehatan mental dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya yang dominan. Sebaliknya, narasi terapis beroperasi pada premis bahwa masalah-masalah yang diidentifikasi dalam sosial, budaya, politik, dan konteks relasional daripada individua. Mereka sangat peduli dengan mempertimbangkan isu-isu gender, etnis, ras, orientasi seksual, dan kelas sosial dalam proses terapeutik.
Masalah terapis narasi berkonsentrasi pada cerita-cerita yang mendominasi dan menundukkan pribadi, sosial, dan budaya tingkat. Dari orientasi ini, para praktisi membongkar asumsi-asumsi budaya yang merupakan bagian dari problem klien.
Dalam diskusi tentang pengaruh multikultural klien, Bertolino dan O’Hanlon (2002) bahwa mereka tidak mendekati klien dengan pendapat yg terbentuk sebelumnya. Sebaliknya, mereka belajar dari klien tentang pengalaman mereka. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk lebih memahami multikultural klien:
Apa yang dapat Anda berbagi dengan saya tentang latar belakang yang memungkinkan saya untuk lebih memahami Anda?
Apa yang telah Anda siapkan menghadapi tantangan perkembangan budaya Anda?
Jika ada, tentang latar belakang yang sulit bagi Anda?
Bagaimana Anda dapat menarik kekuatan dan sumber daya dari budaya Anda?
Sumber daya apa yang dapat Anda ambil pada saat dibutuhkan?
Pertanyaan seperti ini dapat
menjelaskan pengaruh multikultural tertentu sebagai sumber dukungan atau yang
berkontribusi pada masalah klien.
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Keterbatasan Multicultural
Counseling terhadap Pendekatan Post
Modern
Keterbatasan berkenaan pendekatan postmodern, pada “sikap ketidaktahuan” terapis, mengasumsikan bersama “klien sebagai ahli”. Jika terapis mengatakan pada klien “Saya benar-benar tidak seorang ahli; Anda adalah ahli, aku percaya pada sumber daya Anda untuk mencari solusi untuk masalah Anda,” kemungkinan akan menimbulkan kurangnya kepercayaan pada Therapist.
Untuk menghindari situasi ini, terapis menggunakan solusi-fokus atau orientasi narrative kepada klien bahwa ia memiliki keahlian dalam proses terapi, tetapi klien tidak langsung terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan tujuan dasar mereka.
Modern
Keterbatasan berkenaan pendekatan postmodern, pada “sikap ketidaktahuan” terapis, mengasumsikan bersama “klien sebagai ahli”. Jika terapis mengatakan pada klien “Saya benar-benar tidak seorang ahli; Anda adalah ahli, aku percaya pada sumber daya Anda untuk mencari solusi untuk masalah Anda,” kemungkinan akan menimbulkan kurangnya kepercayaan pada Therapist.
Untuk menghindari situasi ini, terapis menggunakan solusi-fokus atau orientasi narrative kepada klien bahwa ia memiliki keahlian dalam proses terapi, tetapi klien tidak langsung terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan tujuan dasar mereka.
Kontribusi dari Pendekatan
Postmodern
Constructionism sosial, SFBT, dan narasi terapi membuat banyak contributions untuk bidang psikoterapi.
Orientation postmodern menghargai pendekatan yang optimis didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang yang berkompeten dan dapat dipercaya untuk menggunakan sumber daya mereka dalam menciptakan ilustrasi jadi lebih baik dan lebih banyak kisah-kisah kehidupan.
Praktisi postmodern beranggapan bahwa klien mampu membangun secara signifikan menuju kehidupan yang lebih memuaskan dalam waktu yang relatif singkat.
Karakteristik dari praktisi yang nonpathologizing dengan konstruksionis sosial, solusi-fokus, atau orientasi narative kontribusi besar bagi profesi konseling.
Praktisi dengan orientasi postmodern tidak mendukung pandangan yang berorientasi patologi, mengambil isu dengan sistem pemberian label, dan menantang bahwa terapis adalah ahli pengobatan yang berlaku intervensi ke klien secara pasif.
Pendekatan yang digunakan dengan melihat klien sebagai orang berkompeten dan berakal. Kata kunci yang mendasari konsultatif percakapan adalah: “Bagaimana kita bisa menciptakan ruang untuk dialog dan bertanya-tanya, di mana tujuan, preferensi, dan kemungkinan dapat muncul dan berkembang?”
Hasil studi di Pusat Brief Terapi Keluarga, melaporkan bahwa 91% dari klien yang menghadiri sesi empat atau lebih berhasil dalam mencapai tujuan pengobatan mereka. Keringkasan adalah daya tarik utama SFBT di era perawatan yang dikelola, yang menempatkan premi pada terapi jangka pendek.
Terlepas dari orientasi teoritis tertentu terapis, terapi singkat telah terbukti effective untuk berbagai masalah klinis. Studi yang singkat dibandingkan terapi dengan terapi jangka panjang umumnya tidak menemukan perbedaan (McKeel, 1996).
Constructionism sosial, SFBT, dan narasi terapi membuat banyak contributions untuk bidang psikoterapi.
Orientation postmodern menghargai pendekatan yang optimis didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang yang berkompeten dan dapat dipercaya untuk menggunakan sumber daya mereka dalam menciptakan ilustrasi jadi lebih baik dan lebih banyak kisah-kisah kehidupan.
Praktisi postmodern beranggapan bahwa klien mampu membangun secara signifikan menuju kehidupan yang lebih memuaskan dalam waktu yang relatif singkat.
Karakteristik dari praktisi yang nonpathologizing dengan konstruksionis sosial, solusi-fokus, atau orientasi narative kontribusi besar bagi profesi konseling.
Praktisi dengan orientasi postmodern tidak mendukung pandangan yang berorientasi patologi, mengambil isu dengan sistem pemberian label, dan menantang bahwa terapis adalah ahli pengobatan yang berlaku intervensi ke klien secara pasif.
Pendekatan yang digunakan dengan melihat klien sebagai orang berkompeten dan berakal. Kata kunci yang mendasari konsultatif percakapan adalah: “Bagaimana kita bisa menciptakan ruang untuk dialog dan bertanya-tanya, di mana tujuan, preferensi, dan kemungkinan dapat muncul dan berkembang?”
Hasil studi di Pusat Brief Terapi Keluarga, melaporkan bahwa 91% dari klien yang menghadiri sesi empat atau lebih berhasil dalam mencapai tujuan pengobatan mereka. Keringkasan adalah daya tarik utama SFBT di era perawatan yang dikelola, yang menempatkan premi pada terapi jangka pendek.
Terlepas dari orientasi teoritis tertentu terapis, terapi singkat telah terbukti effective untuk berbagai masalah klinis. Studi yang singkat dibandingkan terapi dengan terapi jangka panjang umumnya tidak menemukan perbedaan (McKeel, 1996).
(Bertolino & O’Hanlon,
2002; de Shazer, 1991; De Jong & Berg, 2002; Freedman & sisir, 1996;
Miller, Hubble, & Duncan, 1996; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989; Walter
& Peller, 1992, 2000; Winslade & Monk, 1999).
Berdasarkan penelitian SFBT, McKeel mengidentifikasikan:
Presuppositional pertanyaan untuk melihat apa yang mereka lakukan berguna. “Apa Anda telah berhasil di masa lalu?” Pertanyaan seperti itu mengembangkan perspektif baru bagi klien.
Scaling pertanyaan efektif untuk memantau kemajuan.
Kolaborasi klien-terapis cenderung sukses.
Ketika terapis klien terlibat dalam larutan-pembicaraan (bukan masalah-pembicaraan), klien sering melaporkan bahwa terjadi perubahan.
Berdasarkan penelitian SFBT, McKeel mengidentifikasikan:
Presuppositional pertanyaan untuk melihat apa yang mereka lakukan berguna. “Apa Anda telah berhasil di masa lalu?” Pertanyaan seperti itu mengembangkan perspektif baru bagi klien.
Scaling pertanyaan efektif untuk memantau kemajuan.
Kolaborasi klien-terapis cenderung sukses.
Ketika terapis klien terlibat dalam larutan-pembicaraan (bukan masalah-pembicaraan), klien sering melaporkan bahwa terjadi perubahan.
Batasan dan Kritik terhadap
Pendekatan Postmodern
Sebuah kekhawatiran mengenai kedua solusi yang; terapi berfokus pada solusi dan terapi narasi singkat berkenaan dengan cara di mana beberapa ahli mungkin memuliakan sebuah teknologi dan membuat tujuan sendiri.
SFBT atau terapi naratif tidak memiliki seperangkat formula atau panduan yang jelas.
Bahwa terapi narasi akan bervariasi dengan setiap klien, karena setiap orang adalah unik.
Dalam waktu yang relatif singkat praktistioners harus dapat membuat penilaian, membantu klien dalam merumuskan tujuan specific, dan secara efektif menggunakan intervensi yang tepat.
(Freedman & Combs, 1996; Monk, Winslade, 6ockei, &. Epston, ,1997; O ‘Hanlon, 1994; Winslade & Monk, 1999
Sebuah kekhawatiran mengenai kedua solusi yang; terapi berfokus pada solusi dan terapi narasi singkat berkenaan dengan cara di mana beberapa ahli mungkin memuliakan sebuah teknologi dan membuat tujuan sendiri.
SFBT atau terapi naratif tidak memiliki seperangkat formula atau panduan yang jelas.
Bahwa terapi narasi akan bervariasi dengan setiap klien, karena setiap orang adalah unik.
Dalam waktu yang relatif singkat praktistioners harus dapat membuat penilaian, membantu klien dalam merumuskan tujuan specific, dan secara efektif menggunakan intervensi yang tepat.
(Freedman & Combs, 1996; Monk, Winslade, 6ockei, &. Epston, ,1997; O ‘Hanlon, 1994; Winslade & Monk, 1999
TEORI-TEORI POSTMODERN
Teori Karir Kontekstualis
(Young, Valach, & Collin, 2002). Menyarankan bahwa pendekatan dikotomis yang digunakan para ahli teori sikap dan faktor untuk menggambarkan orang dan lingkungan kerja tidak sesuai. Mereka percaya bahwa satu-satunya jalan untuk memahami individu adalah dalam konteks lingkungannya ketika mereka mengalami dan memikirkannya atau arti dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Untuk memahami sebuah peristiwa, seseorang harus memulainya dengan peristiwa tersebut, menentukan pandangan individu mengenai peristiwa tersebut, dan melanjutkan dari titik tersebut.
Young, Valach, dan Collin (2002) Mereka membagi aksi menjadi tiga bagian:
perilaku yang tidak dapat diobservasi,
proses internal yang tidak dapat diobservasi,
dan arti atau hasil sebagaimana diinterpretasikan oleh individu dan orang lain yang mengawasi tindakan.
Dalam proses ini, tujuan bersama dibentuk, dan para pemain terlibat dalam aksi bersama yang juga memiliki arti personal dan sosial. Proyek-proyek adalah aksi individu atau bersama jangka panjang, seperti mempersiapkan karir. ketika orang membentuk arti diantara aksi-aksi dan proyek-proyek, mereka bisa terlibat dalam usaha seperti karir.
Interpretasi-interpretasi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan budaya aktor karena berbagai macam persepsi yang berkembang sebagai hasil dari variabel-variabel tersebut. Interpretasi terjadi pada dua tingkat: konteks saat ini, yang dibangun dalam aliran tindakan, dan konteks masa depan yang diantisipasi.
Tersedia sejumlah publikasi yang mengilustrasikan bagaimana teori kontekstual dapat diterapkan dalam konseling karir (contoh Savickas, 1995; Young dkk., 2002). Savickas (1995) menyarankan pendekatan lima langkah yang dimulai dengan cerita –cerita menyenangkan yang mengarahkan pada identifikasi tema. Tema-tema sering disebut sebagai ide mengenai hakikat masalah karir. apabila tema atau beberapa tema telah tergambar, konselor “bercerita” atau menggambarkan tema pada klien. Klien dan konselor kemudian menginterpretasikan permasalahan sesuai dengan tema, mengedit atau mengubah tema, dan memperpanjangnya sampai masa depan. Langkah akhir dalam proses ini mencakup membantu klien mengembangkan keahlian-keahlian perilaku yang dibutuhkan untuk menerapkan tema naratif masa depan yang telah dikembangkan.
Teori Karir Kontekstualis
(Young, Valach, & Collin, 2002). Menyarankan bahwa pendekatan dikotomis yang digunakan para ahli teori sikap dan faktor untuk menggambarkan orang dan lingkungan kerja tidak sesuai. Mereka percaya bahwa satu-satunya jalan untuk memahami individu adalah dalam konteks lingkungannya ketika mereka mengalami dan memikirkannya atau arti dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Untuk memahami sebuah peristiwa, seseorang harus memulainya dengan peristiwa tersebut, menentukan pandangan individu mengenai peristiwa tersebut, dan melanjutkan dari titik tersebut.
Young, Valach, dan Collin (2002) Mereka membagi aksi menjadi tiga bagian:
perilaku yang tidak dapat diobservasi,
proses internal yang tidak dapat diobservasi,
dan arti atau hasil sebagaimana diinterpretasikan oleh individu dan orang lain yang mengawasi tindakan.
Dalam proses ini, tujuan bersama dibentuk, dan para pemain terlibat dalam aksi bersama yang juga memiliki arti personal dan sosial. Proyek-proyek adalah aksi individu atau bersama jangka panjang, seperti mempersiapkan karir. ketika orang membentuk arti diantara aksi-aksi dan proyek-proyek, mereka bisa terlibat dalam usaha seperti karir.
Interpretasi-interpretasi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan budaya aktor karena berbagai macam persepsi yang berkembang sebagai hasil dari variabel-variabel tersebut. Interpretasi terjadi pada dua tingkat: konteks saat ini, yang dibangun dalam aliran tindakan, dan konteks masa depan yang diantisipasi.
Tersedia sejumlah publikasi yang mengilustrasikan bagaimana teori kontekstual dapat diterapkan dalam konseling karir (contoh Savickas, 1995; Young dkk., 2002). Savickas (1995) menyarankan pendekatan lima langkah yang dimulai dengan cerita –cerita menyenangkan yang mengarahkan pada identifikasi tema. Tema-tema sering disebut sebagai ide mengenai hakikat masalah karir. apabila tema atau beberapa tema telah tergambar, konselor “bercerita” atau menggambarkan tema pada klien. Klien dan konselor kemudian menginterpretasikan permasalahan sesuai dengan tema, mengedit atau mengubah tema, dan memperpanjangnya sampai masa depan. Langkah akhir dalam proses ini mencakup membantu klien mengembangkan keahlian-keahlian perilaku yang dibutuhkan untuk menerapkan tema naratif masa depan yang telah dikembangkan.
Status dan Kegunaan
Teori-teori Kontekstualis.
Bloch (2005) memulai penjelasan teorinya dengan memberikan daftar karakteristik-karakteristik entitas adaptif, dimana salah satunya adalah karir. Karakteristik-karakteristik tersebut digambarkan dibawah ini.
1. Entitas-entitas adaptif memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri meskipun bentuk dan komponen mereka berubah.
2. Mereka adalah sistem-sistem terbuka, mengambil energi dari lingkungan dan sebagai balasannya memberikan energi.
3. Mereka merupakan bagian dari jaringan, menggunakan pertukanran sumber daya. Jaringan ini dapat dilukiskan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris yang saling terkait dan semakin melebar (hingga efek kupu-kupu)
4. Mereka merupakan bagian dari entitas lain. Bagian-bagian tersebut dinamakan fraktal.
5. Mereka dinamis dan karenanya semakin berubah. Dalam proses perubahan bentuk dan komponen ini, mereka bergerak antara keteraturan dan kekacauan.
6. Mereka melalui transisi dan selama periode ini mencari kecocokan puncak yang memaksimalkan kesempatan bertahan.
7. Merka berperilaku secara tidak linear karena peristiwa-peristiwa ganda dan tak dapat dijelaskan.
8. Mereka bereaksi sehingga perubahan kecil akan mengakibatkan efek yang besar.
9. Mereka bergerak melalui transisi. Mereka mungkin berulangkali kembali pada keadaan yang sama ( titik attractor), berputar dari satu titik ke titik lainnya dalam ayunan attractor , atau bergerak dalam lingkaran, tetapi nonkonsentrik, pola-pola (torus attractor)
10. Fraktal bisa menciptakan fraktal baru ketika mereka bergerak melalui transisi.
11. Fraktal ada hanya sebagai bagian dari realitas yang berasal dari semesta; mereka interindependen.
Bloch (2005) memulai penjelasan teorinya dengan memberikan daftar karakteristik-karakteristik entitas adaptif, dimana salah satunya adalah karir. Karakteristik-karakteristik tersebut digambarkan dibawah ini.
1. Entitas-entitas adaptif memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri meskipun bentuk dan komponen mereka berubah.
2. Mereka adalah sistem-sistem terbuka, mengambil energi dari lingkungan dan sebagai balasannya memberikan energi.
3. Mereka merupakan bagian dari jaringan, menggunakan pertukanran sumber daya. Jaringan ini dapat dilukiskan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris yang saling terkait dan semakin melebar (hingga efek kupu-kupu)
4. Mereka merupakan bagian dari entitas lain. Bagian-bagian tersebut dinamakan fraktal.
5. Mereka dinamis dan karenanya semakin berubah. Dalam proses perubahan bentuk dan komponen ini, mereka bergerak antara keteraturan dan kekacauan.
6. Mereka melalui transisi dan selama periode ini mencari kecocokan puncak yang memaksimalkan kesempatan bertahan.
7. Merka berperilaku secara tidak linear karena peristiwa-peristiwa ganda dan tak dapat dijelaskan.
8. Mereka bereaksi sehingga perubahan kecil akan mengakibatkan efek yang besar.
9. Mereka bergerak melalui transisi. Mereka mungkin berulangkali kembali pada keadaan yang sama ( titik attractor), berputar dari satu titik ke titik lainnya dalam ayunan attractor , atau bergerak dalam lingkaran, tetapi nonkonsentrik, pola-pola (torus attractor)
10. Fraktal bisa menciptakan fraktal baru ketika mereka bergerak melalui transisi.
11. Fraktal ada hanya sebagai bagian dari realitas yang berasal dari semesta; mereka interindependen.
Karir-karir adalah
fraktal-fraktal dan merupakan bagian dari kehidupan seseorang, dan mereka,
sebagai balasannya, adalah bagian dari jaringan yang dihubungkan yang membentuk
kembali diri mereka. Karena mereka bekerja dan berpartisipasi dalam karir
mereka, orang mengalami perhubungan sumber daya dan energi sama dengan yang
terjadi pada fraktal, karir beberapa orang dan bahkan hidup mereka, berada pada
berurutan dan kekacauan. Perubahan kecil dalam karir seseorang sering
mengakibatkan perubahan besar yang tak terantisipasi. Ketika orang mengalami
transisi, yang mungkin atau mungkin tidak merupakan proses terus menerus,
pencarian mereka terhadap karir baru menjadi pencarian pada puncak kecocokan, atau
apa yang diharapkan terbaik oleh seseorang.
Karir menjadi masuk akal hanya jika diuji mengunakan logika nonlinear. Perpindahan dalam karir dan bentuk dan keadaan yang diinginkan tidak dapat diprediksi; mereka hanya bisa dipahami secara fenomena, yaitu, dari prespektif individu.
Karir menjadi masuk akal hanya jika diuji mengunakan logika nonlinear. Perpindahan dalam karir dan bentuk dan keadaan yang diinginkan tidak dapat diprediksi; mereka hanya bisa dipahami secara fenomena, yaitu, dari prespektif individu.
Status dan Kegunaan
Teori-Teori Posmodern.
Terlalu dini untuk mengatakan apakah teori Bloch (2005) akan diikuti oleh banyak orang, tetapi boleh kita katakan bahwa banyak profesional setuju dengan filosfi yang mendasari teorinya, terutama idenya bahwa konseling karir adalah konseling spiritual. Meskipun dia belum mengucapkanpendekatan menyeluruh pada konseling karir, dia dan Lee Rich mond (Bloch & Richmonf, 1998) mengidentifikasi tujuh konektor yang bisa membantu klien memperoleh atau mempertahankan hubungan antara kerja dan spiritualitas.
1. Klien mempertahankan keterbukaan untuk berubah dalam hidup mereka dn mengembangkan kapasistas untuk bereaksi terhadap kejadian yang tidak direncanakan (Krumboltz 1998).
2. Klien menyeimbangkan aktivitas dalam hidup mereka antara keluarga, pekerjaan, waktu senggang, dll.
3. Klien mengembangkan energi sehingga mereka merasa mereka bisa melakukan apa yang mereka kehendaki.
4. Klien dapan bekerja di komunitas- berkolaborasi.
5. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja adalah panggilan spiritual dimana dia menerapkan nilai-nilai dan kemampuan-kemampuan.
6. Klien dapat bekerja dlam suasana yang sesuai dengan talenta dan nilai mereka.
7. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja memiliki arti spiritual yang melebihi ekonomi karena, baik langsung maupun tidak, bekerja itu melayani orang lain.
Terlalu dini untuk mengatakan apakah teori Bloch (2005) akan diikuti oleh banyak orang, tetapi boleh kita katakan bahwa banyak profesional setuju dengan filosfi yang mendasari teorinya, terutama idenya bahwa konseling karir adalah konseling spiritual. Meskipun dia belum mengucapkanpendekatan menyeluruh pada konseling karir, dia dan Lee Rich mond (Bloch & Richmonf, 1998) mengidentifikasi tujuh konektor yang bisa membantu klien memperoleh atau mempertahankan hubungan antara kerja dan spiritualitas.
1. Klien mempertahankan keterbukaan untuk berubah dalam hidup mereka dn mengembangkan kapasistas untuk bereaksi terhadap kejadian yang tidak direncanakan (Krumboltz 1998).
2. Klien menyeimbangkan aktivitas dalam hidup mereka antara keluarga, pekerjaan, waktu senggang, dll.
3. Klien mengembangkan energi sehingga mereka merasa mereka bisa melakukan apa yang mereka kehendaki.
4. Klien dapan bekerja di komunitas- berkolaborasi.
5. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja adalah panggilan spiritual dimana dia menerapkan nilai-nilai dan kemampuan-kemampuan.
6. Klien dapat bekerja dlam suasana yang sesuai dengan talenta dan nilai mereka.
7. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja memiliki arti spiritual yang melebihi ekonomi karena, baik langsung maupun tidak, bekerja itu melayani orang lain.
TEORI-TEORI SOSIOEKONOMI
Teori-teori yang telah dijelaskan sejauh ini pada dasarnya berdasarkan pada psikologis dimana mereka berpendapat bahwa individu-individu memiliki kontrol terhadap hidupnya. Meskipun sebagian besar ahli teori akan setuju bahwa tingkat kontrol berbeda antara individu yang satu dan lainnya dan dari satu situasi ke situasi lainnya, mereka juga setuju bahwa proporsi bahwa individu memang memiliki kontrol dan adalah tugas konselor karir untuk meningkatkan tingkat pengarahan diri.
Berbeda dengan para psikolog, sosiolog dan ahli ekonomi cenderung memperhatikan perilaku kelompok kecil dan besar. Pasa sosiolog sering memfokuskan pada kelompok kecil seperti keluarga, tetapi mereka mungkin memperhatikan kelompok besar seperti wanita atau kelompok minoritas. Beberapa ahli ekonomi mungkin fokus pada kekuatan ekonomi yang mempengaruhi pengembangan karir seluruh angkatan kerja, seperti ekonomi global, apa yang disebut dengan pasar tenaga kerja dual, atau akibat persediaan dan tuntutan pekerja mengenai gaji dan masa kerja.
Teori-teori yang telah dijelaskan sejauh ini pada dasarnya berdasarkan pada psikologis dimana mereka berpendapat bahwa individu-individu memiliki kontrol terhadap hidupnya. Meskipun sebagian besar ahli teori akan setuju bahwa tingkat kontrol berbeda antara individu yang satu dan lainnya dan dari satu situasi ke situasi lainnya, mereka juga setuju bahwa proporsi bahwa individu memang memiliki kontrol dan adalah tugas konselor karir untuk meningkatkan tingkat pengarahan diri.
Berbeda dengan para psikolog, sosiolog dan ahli ekonomi cenderung memperhatikan perilaku kelompok kecil dan besar. Pasa sosiolog sering memfokuskan pada kelompok kecil seperti keluarga, tetapi mereka mungkin memperhatikan kelompok besar seperti wanita atau kelompok minoritas. Beberapa ahli ekonomi mungkin fokus pada kekuatan ekonomi yang mempengaruhi pengembangan karir seluruh angkatan kerja, seperti ekonomi global, apa yang disebut dengan pasar tenaga kerja dual, atau akibat persediaan dan tuntutan pekerja mengenai gaji dan masa kerja.
Teori Pencapaian Status
Menurut Hotchkiss dan Borow (1984,1990,1996), publikasi The American Occupational Structure (Blau & Duncan, 1967) menandai kedatangan teori pencapaian status (SAT). pada awalnya, SAT mengusulkan bahwa status sossioekonomi sebuah keluarga mempengaruhi pendidikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pekerjaan yang dimasuki. Variabel-variabel setelahnya, seperti kemampuan mental dan apa yang diistilahkan social-psychological processes, ditambahkan pada model ini. Hotchkiss dan Borrow (1996) menyarankan bahwa, sebagaimana keadaan model saat ini, asumsi dasarnya adalah status keluarga dan variabel kognitif berkombinasi melalui proses sosial-psikologis untuk mempengaruhi pencapaian pendidikan yang pada gilirannya mempengaruhi pencapaian pekerjaan dan penghasilan.
Teori Pasar Tenaga Kerja Dual
Teori pasar tenaga kerja dual mengusulkan dua tipe bisnis dalam pasar tenaga kerja kita: inti dan peripheral (sekeliling). Perusahaan inti memiliki pasar tenaga kerja internal yang kurang lebih memiliki jalur karir yang baik dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan mobilitas. Perusahaan peripheral tidak membuat komitmen jangka panjang pada pegawai mereka. Bahkan pekerja dibayar per pekerjaan dan diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Para pekerja di perusahaan semacam ini hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meningkatkan mobilitas menurut teori dan penilitian yang mendukung penilaian ini (Hotchkiss & Burrow, 1996)
Ras, Jenis Kelamin dan Karir
Para sosiolog berada di garis terdepan dalam penelitian mengeani akibat ras dan gender terhadap pencapaian pekerjaan dan pendapatan. Penelitian ini secara konsisten telah menunjukkan bahwa orang pendapatan Afrika Amerika lebih rendah dari orang kulit putih (contoh Saunders, 1995). Data gaji mengenai pria dan wanita juga menunjukkan pola serupa, dengan pendapatan wanita secara konsisten lebih rendah dari pria (contoh Johnson & Mortimer, 2002; Reskin, 1993; Roos & Jones, 1993). Penelitian Reskin juga menunjukkan bahwa pria dan wanita dipisahkan di tempat kerja dengan wanita lebih sering dipindahkan pada pekerjaan dengan pendapatan dan status lebih rendah.
Penelitian, seperti pemisahan pekerjaan wanita dan stratifikasi sosioekonomi kelompok minoritas, harus berperan untuk mengingatkan para konselor karir dan lainnya bahwa dibutuhkan usaha yang luar biasa dalam praktik dan advokasi jika terdapat permasalahan yang telah berlangsung lama.
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Setiap teori yang dibahas dalam bab ini menggabungkan pengambilan keputusan sebagai sebuah aspek penting dari pilihan karir dan pengembangan karir. Bagaimanapun dengan pengecualian dari teori pembelajaran sosial Kumblotz (1979), sebagian besar memberikan tanggapan yang kecil terhadap bagaimana individu membuat keputusan-keputusan itu.
Japson dan Dilley 1974) serta Wight (1984) memberikan pembaca beberapa model diskusi yang relevan. Jepson dan Dilley membagi model yang mereka diskusikan kedalam 2 kelompok: model perspektif, yaitu model yang mendeskripsikan bagaimana keputusan sebaikmnya dibuat, dan model deskriptif, yang menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan sebenarnya dibuat. Mereka juga mengatakan bahwa proses meliputi seorang pengambil keputusan dan situasi dimana terdapat 2 alternatif atau lebih yang membawa hasil potensial dari faktor-faktor penting untuk pembuat keputusan. Hal-hal yang penting dari proses ini adalah untuk mengidentifikasikan dan menentukan nilai-nilai relatif kepada altrernatif-alternatif dan konsekuensi mereka jadi dia dapat memaksimalkan hasilnya.
Mitchel mengidentifikasikan 4 elemen yang dianut oleh pengambil keputusan.
1. Batasan mutlak yaitu faktor-faktor yang harus disajikan atau ditiadakan untuk alternatif agar menjadi aktif
2. Karakteristik negatif yaitu adlah aspek-aspek yang tidak diinginkan.
3. Karakteristik positif adalah aspek-aspek yang diinginkan.
4. Karakteristik netral adalah aspek-aspek yang ada namun tidak relevandengan pilihan yang dibuat.
Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengambilan keputusan sebagai berikut.
1. Apakah beresiko rumit jika tidak saya ubah?
2. Apakah beresiko serius jika tidak saya ubah?
3. Dapatkah saya menentukan sebuah solusi aktif untuk masalah tersebut?
4. Apakah ada cukup waktu untuk mencari alternatif-alternatif aktif?
Menurut Hotchkiss dan Borow (1984,1990,1996), publikasi The American Occupational Structure (Blau & Duncan, 1967) menandai kedatangan teori pencapaian status (SAT). pada awalnya, SAT mengusulkan bahwa status sossioekonomi sebuah keluarga mempengaruhi pendidikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pekerjaan yang dimasuki. Variabel-variabel setelahnya, seperti kemampuan mental dan apa yang diistilahkan social-psychological processes, ditambahkan pada model ini. Hotchkiss dan Borrow (1996) menyarankan bahwa, sebagaimana keadaan model saat ini, asumsi dasarnya adalah status keluarga dan variabel kognitif berkombinasi melalui proses sosial-psikologis untuk mempengaruhi pencapaian pendidikan yang pada gilirannya mempengaruhi pencapaian pekerjaan dan penghasilan.
Teori Pasar Tenaga Kerja Dual
Teori pasar tenaga kerja dual mengusulkan dua tipe bisnis dalam pasar tenaga kerja kita: inti dan peripheral (sekeliling). Perusahaan inti memiliki pasar tenaga kerja internal yang kurang lebih memiliki jalur karir yang baik dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan mobilitas. Perusahaan peripheral tidak membuat komitmen jangka panjang pada pegawai mereka. Bahkan pekerja dibayar per pekerjaan dan diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Para pekerja di perusahaan semacam ini hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meningkatkan mobilitas menurut teori dan penilitian yang mendukung penilaian ini (Hotchkiss & Burrow, 1996)
Ras, Jenis Kelamin dan Karir
Para sosiolog berada di garis terdepan dalam penelitian mengeani akibat ras dan gender terhadap pencapaian pekerjaan dan pendapatan. Penelitian ini secara konsisten telah menunjukkan bahwa orang pendapatan Afrika Amerika lebih rendah dari orang kulit putih (contoh Saunders, 1995). Data gaji mengenai pria dan wanita juga menunjukkan pola serupa, dengan pendapatan wanita secara konsisten lebih rendah dari pria (contoh Johnson & Mortimer, 2002; Reskin, 1993; Roos & Jones, 1993). Penelitian Reskin juga menunjukkan bahwa pria dan wanita dipisahkan di tempat kerja dengan wanita lebih sering dipindahkan pada pekerjaan dengan pendapatan dan status lebih rendah.
Penelitian, seperti pemisahan pekerjaan wanita dan stratifikasi sosioekonomi kelompok minoritas, harus berperan untuk mengingatkan para konselor karir dan lainnya bahwa dibutuhkan usaha yang luar biasa dalam praktik dan advokasi jika terdapat permasalahan yang telah berlangsung lama.
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Setiap teori yang dibahas dalam bab ini menggabungkan pengambilan keputusan sebagai sebuah aspek penting dari pilihan karir dan pengembangan karir. Bagaimanapun dengan pengecualian dari teori pembelajaran sosial Kumblotz (1979), sebagian besar memberikan tanggapan yang kecil terhadap bagaimana individu membuat keputusan-keputusan itu.
Japson dan Dilley 1974) serta Wight (1984) memberikan pembaca beberapa model diskusi yang relevan. Jepson dan Dilley membagi model yang mereka diskusikan kedalam 2 kelompok: model perspektif, yaitu model yang mendeskripsikan bagaimana keputusan sebaikmnya dibuat, dan model deskriptif, yang menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan sebenarnya dibuat. Mereka juga mengatakan bahwa proses meliputi seorang pengambil keputusan dan situasi dimana terdapat 2 alternatif atau lebih yang membawa hasil potensial dari faktor-faktor penting untuk pembuat keputusan. Hal-hal yang penting dari proses ini adalah untuk mengidentifikasikan dan menentukan nilai-nilai relatif kepada altrernatif-alternatif dan konsekuensi mereka jadi dia dapat memaksimalkan hasilnya.
Mitchel mengidentifikasikan 4 elemen yang dianut oleh pengambil keputusan.
1. Batasan mutlak yaitu faktor-faktor yang harus disajikan atau ditiadakan untuk alternatif agar menjadi aktif
2. Karakteristik negatif yaitu adlah aspek-aspek yang tidak diinginkan.
3. Karakteristik positif adalah aspek-aspek yang diinginkan.
4. Karakteristik netral adalah aspek-aspek yang ada namun tidak relevandengan pilihan yang dibuat.
Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengambilan keputusan sebagai berikut.
1. Apakah beresiko rumit jika tidak saya ubah?
2. Apakah beresiko serius jika tidak saya ubah?
3. Dapatkah saya menentukan sebuah solusi aktif untuk masalah tersebut?
4. Apakah ada cukup waktu untuk mencari alternatif-alternatif aktif?
Konselor karir menghadapi
sebuah dilema serius ketika membantu para klien dalam proses pengambilan
keputusan. Sekarang tidak satupun dari model-model yang telah dijelaskan
digabungkan kedalam teori-teori umum. Hal ini muncul seperti bahwa sebuah model
dapat membantu beberapa klien dan beberapasituasi lebih baik dan yang lainya
mungkin lebih meuaskan hasilnya untuk keadaan yang berbeda. Ironisnya, konselor
harus menggunakan sebuah model dalam menentukan model mana yang sepertinya
paling bagus untuk klienya saat ini.
IMPLEMENTASI KONSELING POSTMODERN DI SEKOLAH.
Konseling Karir Postmodern
Young, Valach, dan Collin (2002) mengindikasikan bahwa aspek terpenting dalam konseling karir adalah interpretasi, yang melibatkan pemahaman pengalaman klien. Ketika klien menceritakan kisah hidup mereka, konselor dan klien secara spontan menginterpretasikan cerita dalam usaha pembentukan arti.
Bagi konselor, tujuan proses interpretasi adalah; (1) untuk mengetahui pandangan klien; (2) untuk membantu klien peduli terhadap konseptualisasinya dan bagaimana hal tersebut dapat dilakukan dalam rentang hidup mereka; (3) untuk mendukung klien dalam penerapan gagasan-gagasan; dan (4) untuk mempertahankan konstruksi klien dan tidak meninggalkannya demi ide-ide yang lebih ilmiah seperti tipe sifat dan kepribadian.
Proses ini harus membuat klien untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan yang berhubungan dnegan pilihan-pilihan karirnya. Sering kali terjadi, gagasan-gagasan akan memiliki arti di luar batasan-batasan lapangan pekerjaan. Setelah gagasan-gagasan diidentifikasi dan dinilai atau ditolak, para klien yang berhasil akan memprioritaskan dan mengintegrasikan gagasan-gagasan tersebut pada tema-tema tertentu, seperti kemampuan-kemampuan dan nilai-nilai.
Konselor karir mengesampingkan nilai-nilai mereka selama sesi-sesi ini dan bergabung dengan klien dalam proses menciptakan cerita kehidupan yang akan mendorongnya dalam kesempatan karirnya. Prespektif bebas nilai ini membentuk pemikiran dan teori postmodern, sebagaimana yang dibuat oleh Young dan koleganya, ideal untuk digunakan untuk seluruh kelompok, termasuk etnis minoritas. Dengan bebas nilai, konselor dapat bekerja dengan klien dalam proses bantuan tanpa diikat oleh sistem kepercayaan konselor.
Amundson (2003) mempresentasikan filsafat postmodern yang dinamakan seond-order questioning, yang terdapat pada presentasi ini, berikut ini urutan SFBCC:
(1) klien mengidentifikasi masalah untuk dikenali;
(2) klien mengidentifikasi perubahan (tujuan) yang dilakukan dan membuat skala tujuan;
(3) klien didorong untuk mencari pengecualian, yaitu, waktu dimana mereka bisa memecahkan masalah serupa;
(4) klien mengidentifikasi kekuatan personal dan strategi yang diterpakan pada keberhasilan sebelumnya yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang teridentifikasi;
(5) konselor dan klien meninjau ulang tujuan, membuat skalanya, dan mengembangkan sebuah rencana untuk memecahkan kembali atau mengurangi akibat masalah yang ditemui; dan
(6) konselor boleh terlibat dalam menanyakan urutan kedua jika klien “macet.”
Harus dicatat bahwa SFBCC tidak dikembangkan untuk mengenali masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan tentang keputusan. Oleh karena itu, jika permasalahan kesehatan mental menjadi penghalang proses konseling karir, konselor harus mengenalinya dengan menggunakan pendekatan seperti pendekatan perilaku kognitif sebelum melanjutkan dengan konseling karir.
KESIMPULAN
IMPLEMENTASI KONSELING POSTMODERN DI SEKOLAH.
Konseling Karir Postmodern
Young, Valach, dan Collin (2002) mengindikasikan bahwa aspek terpenting dalam konseling karir adalah interpretasi, yang melibatkan pemahaman pengalaman klien. Ketika klien menceritakan kisah hidup mereka, konselor dan klien secara spontan menginterpretasikan cerita dalam usaha pembentukan arti.
Bagi konselor, tujuan proses interpretasi adalah; (1) untuk mengetahui pandangan klien; (2) untuk membantu klien peduli terhadap konseptualisasinya dan bagaimana hal tersebut dapat dilakukan dalam rentang hidup mereka; (3) untuk mendukung klien dalam penerapan gagasan-gagasan; dan (4) untuk mempertahankan konstruksi klien dan tidak meninggalkannya demi ide-ide yang lebih ilmiah seperti tipe sifat dan kepribadian.
Proses ini harus membuat klien untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan yang berhubungan dnegan pilihan-pilihan karirnya. Sering kali terjadi, gagasan-gagasan akan memiliki arti di luar batasan-batasan lapangan pekerjaan. Setelah gagasan-gagasan diidentifikasi dan dinilai atau ditolak, para klien yang berhasil akan memprioritaskan dan mengintegrasikan gagasan-gagasan tersebut pada tema-tema tertentu, seperti kemampuan-kemampuan dan nilai-nilai.
Konselor karir mengesampingkan nilai-nilai mereka selama sesi-sesi ini dan bergabung dengan klien dalam proses menciptakan cerita kehidupan yang akan mendorongnya dalam kesempatan karirnya. Prespektif bebas nilai ini membentuk pemikiran dan teori postmodern, sebagaimana yang dibuat oleh Young dan koleganya, ideal untuk digunakan untuk seluruh kelompok, termasuk etnis minoritas. Dengan bebas nilai, konselor dapat bekerja dengan klien dalam proses bantuan tanpa diikat oleh sistem kepercayaan konselor.
Amundson (2003) mempresentasikan filsafat postmodern yang dinamakan seond-order questioning, yang terdapat pada presentasi ini, berikut ini urutan SFBCC:
(1) klien mengidentifikasi masalah untuk dikenali;
(2) klien mengidentifikasi perubahan (tujuan) yang dilakukan dan membuat skala tujuan;
(3) klien didorong untuk mencari pengecualian, yaitu, waktu dimana mereka bisa memecahkan masalah serupa;
(4) klien mengidentifikasi kekuatan personal dan strategi yang diterpakan pada keberhasilan sebelumnya yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang teridentifikasi;
(5) konselor dan klien meninjau ulang tujuan, membuat skalanya, dan mengembangkan sebuah rencana untuk memecahkan kembali atau mengurangi akibat masalah yang ditemui; dan
(6) konselor boleh terlibat dalam menanyakan urutan kedua jika klien “macet.”
Harus dicatat bahwa SFBCC tidak dikembangkan untuk mengenali masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan tentang keputusan. Oleh karena itu, jika permasalahan kesehatan mental menjadi penghalang proses konseling karir, konselor harus mengenalinya dengan menggunakan pendekatan seperti pendekatan perilaku kognitif sebelum melanjutkan dengan konseling karir.
KESIMPULAN
Dalam teori konstruksionis
sosial terapis-sebagai-ahli digantikan oleh klien-sebagai-ahli. Walaupun klien
dipandang sebagai ahli pada kehidupan mereka sendiri, mereka sering terjebak
dalam pola-pola yang tidak bekerja dengan baik bagi mereka.
Kedua solusi-terfokus dan narasi terapis masuk ke dalam dialog adalah upaya untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dari klien mereka. Upaya terapeutik adalah hubungan yang sangat kolaboratif di mana klien adalah partner senior. Kualitas hubungan terapeutik berada di jantung efektivitas dan narasi terapi yang baik dari SFBT. Banyak terapis memberikan perhatian meningkat untuk menciptakan hubungan collaborative dengan klien.
Bagi terapis yang tidak mengetahui posisi dirinya, memungkinkan terapis untuk mengikuti, menegaskan, dan dibimbing oleh cerita-cerita klien mereka, menciptakan pengamat dan peran fasilitator sebagai terapis dan terintegrasi dengan perspektif penyelidikan postmodern
Kedua solusi yang berfokus pada terapi dan narasi terapi singkat didasarkan pada asumsi optimis bahwa orang-orang yang sehat, berkompeten, berakal, dan memiliki kemampuan untuk membangun alternatif solusi dan cerita-cerita yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Dalam proses terapeutik SFBT menyediakan konteks di mana individu berfokus pada solusi yang diciptakan, bukan berbicara tentang masalah-masalah mereka.
Teknik umum termasuk penggunaan keajaiban pertanyaan, ekpektasi pertanyaan; dan skala pertanyaan. Dalam terapi narasi proses terapeutik menyediakan konteks sosiokultural di mana klien dibantu dalam menemukan sumber masalah mereka dan dapat kesempatan untuk menyempaikan cerita baru.
Praktisi dengan solusi-orientasi terfokus atau narasi cenderung mengarah menciptakan situasi: Di mana mereka dapat membuat keuntungan yang jelas kepada tujuan mereka.
Kedua solusi-terfokus dan narasi terapis masuk ke dalam dialog adalah upaya untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dari klien mereka. Upaya terapeutik adalah hubungan yang sangat kolaboratif di mana klien adalah partner senior. Kualitas hubungan terapeutik berada di jantung efektivitas dan narasi terapi yang baik dari SFBT. Banyak terapis memberikan perhatian meningkat untuk menciptakan hubungan collaborative dengan klien.
Bagi terapis yang tidak mengetahui posisi dirinya, memungkinkan terapis untuk mengikuti, menegaskan, dan dibimbing oleh cerita-cerita klien mereka, menciptakan pengamat dan peran fasilitator sebagai terapis dan terintegrasi dengan perspektif penyelidikan postmodern
Kedua solusi yang berfokus pada terapi dan narasi terapi singkat didasarkan pada asumsi optimis bahwa orang-orang yang sehat, berkompeten, berakal, dan memiliki kemampuan untuk membangun alternatif solusi dan cerita-cerita yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Dalam proses terapeutik SFBT menyediakan konteks di mana individu berfokus pada solusi yang diciptakan, bukan berbicara tentang masalah-masalah mereka.
Teknik umum termasuk penggunaan keajaiban pertanyaan, ekpektasi pertanyaan; dan skala pertanyaan. Dalam terapi narasi proses terapeutik menyediakan konteks sosiokultural di mana klien dibantu dalam menemukan sumber masalah mereka dan dapat kesempatan untuk menyempaikan cerita baru.
Praktisi dengan solusi-orientasi terfokus atau narasi cenderung mengarah menciptakan situasi: Di mana mereka dapat membuat keuntungan yang jelas kepada tujuan mereka.